Nama Menes Mengingatkan Saya Ketika Jadi Korban Tsunami

Sabtu, 12 Oktober 2019

Nama Desa Menes sontak tenar menyusul aksi penusukan yang dilakukan Syahril Alamsyah (31) alias Abu Rara, teroris yang disebut-sebut tergabung dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) terhadap Menko Polhukam Wiranto, Kamis (10/10) siang, di Alun-Alun Menes, Padeglang, Banten.

Sebelumnya tak banyak yang mengenal nama Menes. Desa Menes merupakan salah satu Desa dari dua belas Desa yang berada di wilayah Kecamatan Menes Kabupaten Pandeglang dengan lokasi berada ditengah-tengah Wilayah Kecamatan Menes dan tergolong dalam Desa perkotaan yang berpenduduk padat.

Menes berasal dari kata Mones yang dalam bahasa Portugis berarti bangunan atau gudang tempat menyimpan barang. Lama-kelamaan berubah namanya menjadi Kampung Menes yang sekaligus menjadi cikal-bakal dari Desa Menes.

Korban Tsunami

Tapi bagi saya, meskipun belum sempat singgah, nama desa Menes sempat lekat dengan ingatan. Ketika itu, 22 Desember 2018, saya menjadi salah satu korban tsunami Tanjung Lesung. Dalam kondisi badan, kaki, dan tangan yang penuh luka, saya ‘terdampar’ di Puskesmas Cigeulis.

Karena begitu banyak pasien, tim medis benar-benar kewalahan. Belum lagi obat yang cuma sedikit. Padahal Minggu (23/12) dinihari, sekitar pukul 1.00, suhu badan saya mulai naik. Obat anti tetanus tak tersedia. Tim medis menjelaskan, hanya rumah sakit besar yang punya stok obat tersebut. Akhirnya saya hanya diberi obat penahan nyeri.

Pasien yang semakin banyak, membuat saya tak enak hati. Apalagi luka-luka mereka lebih parah, dari yang kepalanya bocor, kuping sobek, dll. Saya pun memutuskan meninggalkan puskemas untuk kemudian numpang menginap di rumah Dede Rohani, yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari puskesmas.

Malam itu, saya benar-benar tak bisa tidur. Selain menahan rasa sakit, malam itu banyak warga kumpul di rumah Dede Rohani untuk berlindung. Mereka kebanyakan warga dari desa lain yang posisinya dekat dengan laut, sementara rumah Dede berada di gunung. Saya dengan sabar menjawab pertanyaan dari orang-orang soal tsunami yang baru saja terjadi.

Apalagi saya sampai di Puskesmas Cigeulis, satu mobil dengan Ivan, vokalis Seventen yang sedang mencari istri dan teman-teman bandnya. Mereka begitu bersemangat bertanya. Padahal ketika di mobil, kita lebih banyak berdiam diri karena masih shock. Mobil yang kami tumpangi menyusuri bibir pantai. Rasa takut pun kembali muncul. Kami khawatir akan ada tsunami susulan.

Mobil Carteran Sulit

Pagi hari, suhu badan saya makin panas. Belum lagi luka menganga di kaki yang mulai dikerubungi lalat. Saya benar-benar ingin pulang ke Jakarta untuk mendapat perobatan yang layak.

Dede Rohani yang semula siap mencarikan mobil carteran, akhirnya menyerah. Tak ada mobil yang berani melintas bibir pantai. Apalagi munculnya berita hoax yang menyebutkan kalau kendaraan dilarang melalui jalan-jalan yang ada di wilayah dekat pantai.

Di saat kalut, istri saya memberi kabar akan ada orang Menes yang mau membawa saya keluar dari Cigeulis. Rasa bahagia pun muncul seketika. Sekitar pukul 11.00 WIB, telpon masuk dari seorang laki-laki yang mengaku adik dari Wiwid, tetangga saya di Jakarta.

Dia minta saya siap-siap, karena dia mau meluncur. Dia akan membawa saya ke rumahnya, mengantarkan ke tukang urut jempolan langganannya, untuk selanjutnya mencarikan mobil carteran. Tapi ajakan itu terpaksa saya tolak, karena dia mau menjemput pakai sepeda motor. Untuk duduk dan mengangkat kaki saja saya susah, apalagi kalau harus naik motor yang menurutnya sekitar 1 jam.

Saya pun terpaksa menolak kebaikan orang Menes. Saya pun akhirnya menunggu kedatangan keluarga saya, Minggu (23/12) malam. Terima kasih orang Menes yang sudah mau bersusah-susah berusaha membantu saya.

kinoy jackson