Diancam Dipolisikan, Peneliti LSI Tak Peduli

Kamis, 2 Mei 2019

DEKANDIDAT.COM – Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa tak peduli dengan ancaman dari berbagai pihak terkait hasil hitung cepat quick count Pilpres 2019 yang memenangkan pasangan petahana Jokowi-Ma’ruf. Salah satu ancamannya, mereka akan dipolisikan.

“Selama itu tak membahayakan hidup saya, saya tak ambil pusing. Saya tak peduli dengan ancaman dari berbagai pihak terkait hasil Pilpres 2019 yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf. Saya sama sekali tak peduli. Itu kira, itu adalah risiko dari perkerjaan,” tukas peneliti senior LSI Denny JA, Ardian Sopa.

Tampil sebagai pembicara saat melansir survei terkini bertajuk ‘100% Quick Count dan Empat Temuan Penting Pilpres’, Kamis (2/5) siang, di Rawamangun, Jakarta, Ardian menyebutkan, sejak LSI mempublikasikan hasil quick count Pilpres 2019 yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf, dia dan teman-temannya di LSI beberapa kali mendapat ancaman.

“Kita memang mendapat sejumlah ancaman, misalnya akan mempolisikan kita. Sekali lagi saya tak peduli,” tegas Ardian menambahkan.

Seperti diberitakan, LSI Denny JA menjadi lembaga survei pertama yang mengucapkan selamat datang kepada Jokowi-Ma’ruf sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024, pada 17 April, pukul 15.01 WIB.

Adapun hasil quick count LSI untuk Pilpres 2019 adalah, pasangan Jokowi-Ma;ruf meraih 55,71% atau meraih 86.773.220 suara, mengalahkan Prabowo-Sandi yang hanya meraih 44,29% atau sekitar 68.985.566, atau selisih suara sekitar 17 juta.

Data quick count LSI Denny JA menunjukan, pasangan petahana Jokowi-Maruf menang di 21 provinsi di Indonesia, sedangkan Prabowo-Sandi menguasai 13 provinsi lainnya.

“Jika pemilih pada pilpres 2019 tercatat sebesar 192.866.254 pemilih dengan asumsi partisipasi pemilih sebesar 80.76 % (versi QC), maka estimasi suara sah pada pilpres 2019 sebesar 155.758.787 suara. Jika Jokowi-Maruf memperoleh suara sebesar 55.71 % artinya sama dengan 86.773.220 suara, sementara Prabowo-Sandi memperoleh suara 44.29 % artinya setara dengan 68.985.566 suara,” jelasnya.

Ardian menjabarkan, sebanyak 21 dari 34 provinsi yang berkontribusi atas keunggulan perolehan suara Jokowi-Ma’ruf.

Provinsi adalah Bali, Yogyakarta, Jakarta, Gorontalo, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Sumatera Utara.

Daerah-daerah Jokowi-Ma’ruf menang mutlak antara lain Bali (93,85 persen), Jawa Tengah (77,20 persen), Kalimantan Utara (74,45 persen), Papua (89,60 persen, Nusa Tenggara Timur (89,43 persen), dan Papua Barat (78,58 persen).

Sementara Prabowo-Sandiaga menang mutlak antara lain Aceh (85,28 persen), Riau (65, 24 persen), Sumatera Barat (85,10 persen), Nusa Tenggara Barat (64,02 persen), Maluku Utara (59,08 persen), dan Kalimantan Selatan (65,66 persen).

Berdasarkan hasil survei ada lima faktor Jokowi sebagai capres petahana sukses melenggang untuk kedua kalinya.

Pertama, sebagian besar masyarakat atau hampir 80 persennya mengaku puas terhadap kinerja Jokowi, khususnya selama masa pemerintahan 2014-2019. Menurut Ardian, program kartu sakti juga menjadi faktor utama keunggulan Jokowi saat ini.

“Mayoritas publik puas terhadap kinerja pemerintahan Jokowi saat ini. Sebesar 69,5 persen. Masyarakat puas dengan enam program Jokowi yaitu KIP, KIS, PKH, dana desa, infrastruktur. Bahkan paling tinggi (tingkat kepuasan masyarakat) ada pada KIP, KIS, dan PKH dengan relatif 96, sekian persen,” tukasnya.

kinoy jackson