LSI: Imam Nahrawi Harus Berjuang Keras Kalau Mau Lolos ke DPR

Kamis, 21 Februari 2019

DEKANDIDAT.COM – Meskipun Indonesia sukses di Asian Games dan Asian Para Games 2018, namun peluang Menpora Imam Nahrawi untuk lolos ke DPR masih sangat berat. Demikian dikatakan peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar, kemarin, di Rawamangun, Jakarta.

Pada survei yang mengangkat tajuk ‘Dukungan Partai dan Pergeseran di Enam Kantong Suara’, keberhasilan kontingen Indonesia di ajang Asian Games dan Asian Para Games 2018, tak bisa dijadikan pegangan bagi keberhasilan Imam Nahrawi di Pemilu 2019.

“Untuk tingkat keterkenalan, Imam Nahrawi mungkin sangat dikenal publik karena posisinya sebagai Menpora. Namun untuk elektabilitas, dia masih harus berjuang keras untuk meraih suara di Dapil 1, Jakarta Timur,” ujar Rully.

Apalagi, lanjutnya, saat ini kementeriannya tengah dililit kasus dana hibah olahraga yang membuat tiga karyawannya dijadikan sebagai tersangka.

“Sekali lagi, Imam Nahrawi harus berjuang untuk bisa meraih suara di Dapil 1.”

Dapil 1, disebut sebagai Dapil Neraka. Di Dapil ini banyak tokoh nasional gagal lolos ke Senayan, di antaranya Agung Laksono dari Partai Golkar. Di Dapil 1, Imam Nahrawi akan berebut suara dengan Habiburokhman dari Gerinda, Wanda Hamidah (Nasdem), Christine Panjaitan (Golkar), Eko Patrio (PAN), Yusril Ihza Mahendra (PBB), Mardani Ali Sera (PKS), dan sejumlah nama top lainnya.

Beda Perahu NU

Imam yang bertarung membawa bendera PKB, juga harus berebut suara dengan caleg dari Partai Islam lainnya.

“Kalau Imam Nahrawi bertarung di Jawa Timur, dia dengan mudahnya meraih suara. Tapi di Jakarta, tipe pemilih muslim, khususnya NU sangat berbeda jauh dengan pemilih NU di Jatim. Di Jakarta, pemilih NU, berbeda perahu. Pemilih NU yang ada di Jakarta, punya kecenderungan memilih caleg dari PPP,” tukasnya.

“Karenanya, kalau Dia (Imam Nahrawi) hanya mengandalkan keberhasilan Indonesia di ajang Asian Games, Asian Para Games 2018, dan bendera NU, dia sulit lolos ke Senayan. Dia harus turun ke konstituennya secara rutin dengan membawa program yang bisa diterima msayarakat setempat,” ujar Rully mengingatkan.

Sementara itu berdasarkan hasil survei LSI Denny JA, dari enam kantong pemilih, PKB berada di posisi lima besar untuk kantong Pemilih Muslim, Pemilih Emak-Emak, Pemilih Wong Cilik, dan Pemilih Milenial)

“PKB terlempar dari posisi lima besar di kantong Pemilih Terpelajar dan Pemilih Minoritas.”

Survei LSI Denny JA dilakukan pada 18-25 Januari 2019, dengan menggunakan 1.200 responden. Survei dilakukan di 34 provinsi di Indonesia dengan menggunakan metode multistage random sampling. Wawancara dilakukan secara tatap muka menggunakan kuisioner. Margin of error survei ini adalah 2,8 persen.

kinoy jackson