LSI: Maklumat Habib Rizieq Pengaruhi Elektabilitas PBB

Rabu, 20 Februari 2019

DEKANDIDAT.COM – Elektabilitas Partai Bulan Bintang (PBB) yang hingga kini masih di level nol persen, ternyata terpengaruh oleh Maklumat Habib Rizieq dari Arab Saudi. Demikian salah satu hasil survei LSI Denny JA yang dirilis Rabu (20/2) siang, di Rawamangun, Jakarta.

“Elektabilitas PBB yang hingga kini masih di kisaran nol persen sangat dipengaruhi oleh posisi Yusril Ihza Mahendra saat ini,” kata peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar.

Pada survei yang mengangkat tajuk ‘Dukungan Partai dan Pergeseran di Enam Kantong Suara’, Rully menjelaskan, ketika PBB baru berdiri, pengaruh Yusril masih sangat diakui publik.

“Berbeda dengan saat ini. Pengaruh Yusril mulai berkurang. Imbasnya pada elektabilitas partai yang dipimpinnya,” lanjutnya.

Selain itu, pertentangan antara Yusril dengan Habib Rizieq terkait soal capres-cawapres dan caleg PBB, membuat elektabilitas partai semakin anjlok.

Seperti diberitakan, Habib Rizieq langsung mengeluarkan maklumat agar caleg PBB yang berasal dari FPI, keluar dari PBB. Perintah Rizieq dari Arab Saudi langsung direpon. Sejumlah caleg PBB dari FPI langsung keluar.

Sebaliknya, sebagai Ketua Umum PBB, Yusril menyuruh seluruh caleg dan pengurus PBB yang berasal dari PBB, disuruh keluar.

“Perintah Habib Rizieq dari Arab Saudi yang menyuruh ‘anak buahnya’ keluar dari PBB ternyata ada pengaruhnya. Saat ini elektabilitas PBB berada di kisaran nol persen.”

Untuk partai pilihan populasi, elektabilitas PBB hanya 0,0 persen. Namun karena ada margin error sebesar 2,8 persen, bukan berarti PBB tak memiliki pemilih. Posisi pertama untuk kategori ini adalah PDIP (23,7 persen), Gerindra (14,6 persen), Golkar (11,3 persen), PKB (8,2 persen), Demokrat (5,4 persen), Nasdem (4,5 persen), PKS (4,0 persen), Perindo (3,6 persen), PPP (3,5 persen), PAN (1,5 persen), Hanura (0,5 persen), PSI (0,4 persen), Garuda (0,3 persen), Berkarya (0,1 persen), PBB (0,0 persen), dan PKPI (0,0 persen).

Survei LSI Denny JA dilakukan pada 18-25 Januari 2019, dengan menggunakan 1.200 responden. Survei dilakukan di 34 provinsi di Indonesia dengan menggunakan metode multistage random sampling. Wawancara dilakukan secara tatap muka menggunakan kuisioner.

kinoy jackson