Tsunami Tanjung Lesung

Yudhi Kotjo Ikhas Kehilangan Rahma, Putri Tercintanya

Jumat, 25 Januari 2019

DEKANDIDAT.COM – Sudah lebih dari sebulan  terjangan tsunami yang menghantam Tanjung Lesung dan beberapa tempat lain di pulau Jawa dan Sumatera telah berlalu, namun Wahyudhi Kotjo Anggono masih belum bisa melupakan wajah putri tercintanya, Rahma (9,5). Rahma merupakan salah satu korban meninggal karena diterjang tsunami pada Sabtu (22/12) malam, pukul 21.27 WIB.

Lelaki yang kesehariannya menjabat sebagai salah satu Kabid di PP-ITKON Kemenpora itu, semula berniat mengajak Rahma, pelajar SD kelas IV, untuk menikmati masa liburan akhir tahun. Mereka pun berangkat dengan bus ukuran sedang dari halaman kantor Kemenpora, Jumat (21/12) pagi. Acara Ghatering Kemenpora berlangsung 21-23 Desember.

“Rahma suka main di pantai. Ketika acara ghatering membolehkan membawa keluarga, saya mengajak Istri (Dian) dan Rahma, yang baru saja selesai ujian,” ujar Yudhi, Selasa (21/1) siang, di kantor Kemenpora. Dia menyempatkan datang ke kantor untuk mengurus surat keterangan kesehatan, sekaligus mengambil uang santunan.

Saat itu, dia ditemani istrinya, Dian. Yudhi sendiri masih menggunakan tongkat, karena kaki kanannya yang patah di dua tempat masih belum pulih. Begitu juga dengan luka sobek di bahunya akibat benda tajam.

Di Depan Panggung

Sebelum tsunami menerjang, seluruh karyawan Kemenpora tengah berada di restoran yang letaknya hanya beberapa meter dari pantai. Yudhi bersama istri dan anaknya duduk tak jauh dari panggung. Ketika orang-orang berteriak ada tsunami, dia beserta istri dan anaknya ikut berhamburan untuk menyelamatkan diri.

“Istri saya sempat memegang tangan Rahma. Tapi karena begitu dahsyatnya ombak, pegangannya terlepas. Saya dan Dian hanya terpisah sekitar lima meter, sementara Rahma tak tahu kemana,” ujarnya.

Dibantu rekan-rekan dan tim evakuasi, Yudhi yang sudah tak berdaya akhirnya dibawa ke RSUD Serang untuk dioperasi. Sebelumnya, dia bersama istrinya sempat ditangani di Puskemas Panimbang.

“Saya sempat dibawa ke klinik Cikadu, tapi karena luka saya dianggap parah, mereka mengirim saya ke Panimbang.”

“Sambil menahan sakit, pikiran saya selalu ke Rahma. Saya susah pasrah. Kalau seandainya Rahma tiada, saya meminta kepada Yang Maha Kuasa agar jasadnya ditemukan,” imbuhnya.

Pingsan Berulang Kali

Yudhi sama sekali tak menyangka kalau sebenarnya jasad Rahma telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Kondisinya yang sangat lemah, membuatnya sering pingsan. Pihak keluarga pun sepakat merahasiakan kabar soal Rahma yang telah meninggal dunia.

“Saya baru tahu Rahma meninggal dari Pak Basuki, mantan Kepala Rumah Sakit Olahraga Nasional (RSON). Saat itu dia mengucapkan bela sungkawa di RSON. Dia juga memperlihatkan foto pemakaman Rahma. Saya sangat kaget. Tapi saya ikhlas. Rahma sudah berada di tempat terbaik.”

“Seperti saat dia lahir, saya juga tak sempat melihat Rahma untuk terakhir kali. Saat Rahma lahir, saya juga tak berada di tempat. Tapi saya yang mengazaninya.”

Selalu Mengingatkan Solat

Kini, Rahma telah tiada bersama sekitar 430-an orang lain akibat tsunami. Tapi Yudhi sampai saat ini selalu ingat wajah Rahma, anak bungsu dari tiga bersaudara.

“Sampai sekarang, saya selalu ingat. Rahma selalu mengingatkan saya untuk solat, seperti ketika saya mengingatkan dia untuk solat.”

Selain Rahma, lima karyawan Kemenpora juga menjadi korban meninggal, mereka adalah Ibu Helena, Ibu Nia, Mbak Titik, Mbak Umi, dan Betty.

Sementara puluhan karyawan Kemenpora lainnya termasuk Kepala PP-ITKON, Edi Nurinda, mengalami luka berat, hingga luka ringan.

kinoy Jackson