Seandainya Dapat Door Prize, Mungkin Saya Sudah Mati Digulung Tsunami

Rabu, 16 Januari 2019

DEKANDIDAT.COM – 25 hari sudah, tragedi tsunami di Tanjung Lesung terjadi. Dari 436 korban tewas, enam orang di antaranya adalah teman-teman saya dari PP-ITKON Kemenpora. Saya bersama puluhan teman-teman termasuk yang beruntung karena selamat dari terjangan ombak setinggi 5-6 meter. Kalau saja malam itu, 22 Desember 2018, saya sudah masuk tenda, bukan tak mungkin saya cuma pulang nama.

Setelah puas berenang di pantai dan naik banana boat, sore hari, kami kembali ke tenda. Malamnya kami diminta berkumpul di sebuah resto yang letaknya persis di bibir pantai. Selain dihibur oleh debus api, panitia juga menghibur kami dengan menampilkan dua penyanyi organ tunggal cantik, serta door prize untuk semua peserta. Termasuk saya, satu-satunya wartawan yang diajak meliput acara ini.

Malam itu, saya yang sehari sebelumnya tak bisa tidur karena gangguan nyamuk di tenda dan udara dingin, sudah tak kuat menahan kantuk. Tapi karena ingin mendapat door prize, saya berusaha bertahan di restoran tempat acara berlangsung.

Saya memang menyempatkan diri untuk solat Isya. Namun baru saja mau mulai solat, saya mendengar suara panitia akan  memulai bagi-bagi door prize melalui pengeras suara. Tak mau door prize hilang, saya menyempatkan diri  mengirim pesan WA ke Dina (perawat), untuk memberitahukan kalau saya mau solat dulu.

Usai solat, saya kembali ke restoran. Dina langsung meminta nomor undian saya (nomor 9). Saya pun kembali ke belakang, karena rasa kantuk yang begitu berat. Namun hingga tiga kali tahapan door prize, nomor saya belum disebut. Padahal niat saya sudah bulat, begitu dapat door prize, saya mau langsung ke tenda, tidur. Saya bahkan sudah mengolesi seluruh tubuh dengan obat anti nyamuk. Saya memang sudah siap tidur. Saya ingin tidur pulas, sehingga saat perjalanan pulang ke Jakarta, dalam kondisi bugar.

Memasuki bagi-bagi door prize tahap keempat, nomor saya juga belum keluar. Saat nomor door prize milik Yosi, nomor 43, diteriakkan MC, listrik tiba-tiba mati. Acara pun terhenti. Hanya berselang sekitar 2 menit, ombak besar tiba-tiba datang menerjang. Kami hanya sempat berlari beberapa meter dari restoran, sebelum akhirnya tergulung ombak.

Saya bersyukur bisa selamat dari tsunami, meskipun mengalami luka lebam dan luka sobek di kaki, tangan, dan dada. Saya tak bisa membayangkan kalau malam itu dapat door prize. Pasti saya sudah tidur di tenda dan tak tahu apa-apa lagi ketika ombak tsunami datang. Mungkin hanya kabar duka yang diterima oleh keluarga saya di Jakarta. Tuhan masih memberi saya umur panjang.

kinoy jackson