Sempat Diseret Tsunami, Ramadhan Kaget Dompetnya Kembali Utuh

Selasa, 8 Januari 2019

DEKANDIDAT.COM – Ramadhan, Staf TU di PP-ITKON Kemenpora sepertinya menjadi salah seorang korban tsunami Tanjung Lesung pada 22 Desember 2018, yang beruntung. Meskipun seluruh barang miliknya hanyut diseret ombak, namun dompet berisi KTP, SIM, STNK, ATM, serta uang sekitar 3 juta rupiah bisa kembali.

“Saya kaget aja dompet bisa kembali. Itu pasti berkat doa ibu saya. Begitu ibu saya tahu, dompet saya hilang, dia berdoa agar dompet saya ditemukan. Alhamdulilah ketemu sekarang. Sebelumnya inu saya juga berdoa agar saya diberi keselamatan saat berada di Tanjung Lesung,” ujar Ramadhan, anak bontot dari enam bersaudara.

Sebagai wujud rasa syukurnya, seluruh uang tersebut dia sedekahkan. Sebagian dia berikan kepada Sang Ibu Tercinta.

“Uangnya saya berikan sebagian ke ibu yang telah mendoakan saya. Selebihnya saya bagi-bagi ke saudara dan teman-teman office boy di kantor. Anggap saja buang sial,” ujarnya seraya tersenyum.

Ternyata bukan Ramadhan saja yang barang berharganya ditemukan. Ada sekitar 30 benda berharga, mulai dari HP, laptop, kamera, dan tas yang diserahkan pihak kepolisian ke Kemenpora, dua hari setelah peristiwa tsunami terjadi.

Barang-barang berharga dan barang eletronik yang ditemukan polisi sepertinya ditemukan dari tenda-tenda tempat Ramadhan dan teman-temannya tidur. Karena saat tsunami datang, tenda-tenda yang tertutup oleh resleting, mampu mengamankan barang-barang berharga tersebut.

Kata Ramadhan, saat malam terjadinya tsunami, dompetnya disimpan di tenda nomor 1. Dia tak membawa dompet ketika berdangdut ria bersama teman-teman di malam terakhir kami di Tanjung Lesung.

“Waktu tsunami datang, HP yang saya pegang langsung saya buang. Begitu juga dengan door prize. Saya ketakutan sekali, apalagi tidak bisa berenang. Alhamdulilah Tuhan memberi umur saya panjang,” ujarnya yang mengaku hingga saat ini sering batuk-batuk akibat menelan air laut.

Repot Urus Surat Ilang

Nasib berbeda justru menimpa saya dan beberapa teman. Selain harus rela semua pakaian, laptop, dan alat pancing, diseret tsunami, saya yang kebagian tenda nomor 5, kini dibuat repot karena harus mengurus kartu identitas, dan surat-surat yang hilang.

Sehari setelah peristiwa tsunami yang menewaskan sedikitnya 436 orang, saya yang ingin pulang ke Jakarta, datang ke kantor polisi Cigeulis untuk mengurus surat yang hilang. Kebetulan saya bertemu dengan Pak Polisi yang sempat datang ke Puskesmas Cigeulis saat malam kejadian. Saya dibonceng Dede Rohani, pemuda setempat, yang telah berbaik hati mengijinkan saya menumpang di rumahnya selama menunggu kepulangan.

Malam itu, Pak Polisi menawarkan ke saya, kalau mau mengurus surat-surat yang hilang, saya diminta datang ke kantornya. Tapi ketika saya datang, dia bilang saya harus melapor ke Kantor Polisi di Panimbangan, karena Tanjung Lesung berada di wilayah tersebut. Sambil menahan rasa kecewa dan sakit di paha kiri akibat terbentur benda liar wakty terseret tsunami, saya meninggalkan Kantor Polisi Cigeulis, di bawah guyuran hujan yang lumayan deras.

“Bapak kan yang tadi malam bilang ke saya untuk datang ke kantor, kalau ingin mengurus surat yang hilang? Kok sekarang saya gak bisa minta surat kehilangan?” tanya saya pagi itu.

Pak Polisi itu menjelaskan, dia tak berwenang memberi surat kehilangan buat saya. Kantor Polisi di Panimbangan yang berwenang membuat surat kehilangan, katanya.

Malamnya ketika istri dan keluarga kakak saya menjemput, saya menyempatkan diri mampir ke Kantor Polisi Panimbangan, sesuai anjuran Pak Polisi di Cigeulis. Kepada polisi yang bertugas, saya menjelaskan bahwa saya korban tsunami di Tanjung Lesung yang ingin membuat surat kehilangan. Saat itu, saya hanya bisa menunjukkan surat keterangan sempat dirawat di Puskesmas Cigeulis.

“Ini kan kondisi darurat Pak. Saya tak punya identitas apa-apa lagi. Saya perlu sekali surat kehilangan. Baju saya saja dapat dari Puskesmas Cigeulis,” kata saya kepada bapak Polisi yang menerima saya malam itu.

Namun Pak Polisi tetap tak bisa membuatkan surat kehilangan. Dia bilang, untuk membuat surat kehilangan, harus ada foto kopian dari surat-surat atau kartu yang hilang.

Karena Pak Polisi tetap membutuhkan foto kopi surat yang hilang, sementara saya tak punya sama sekali, akhirnya saya pergi. Lagi-lagi dengan rasa kecewa.

Berbeda ketika mengurus surat kehilangan di pos polisi, saya dipermudah saat membuat KTP hilang di Kelurahan Cempaka Baru, Jakarta Pusat. Lurah Cempaka Baru, M Irfan, sangat membantu saya. Dalam dalam beberapa hari, saya sudah memiliki KTP lagi.

Bermodalkan KTP baru, satu persatu saya mulai mengurusi surat-surat yang hilang lewat bantuan teman dekat saya Asep Setiawan. Dia memang ahlinya di bidang ini. Maklum kesehariannya, Asep menangani  biro jasa kepengurusan SIM, STNK, BPKB, dll, di rumahnya di Jalan C, Bendungan Jago, RT 005/01, Kelurahan Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta.

“Saya buka biro jasa ini sejak 2010. Seharinya minimal saya bisa dapat 5 orderan. Dulunya saya kerja kantoran,” tukas Asep.

Berkat bantuan Pak Asep, kini saya sudah punya  STNK dan SIM lagi. Sementara kartu PWI dan NPWP sedang dalam proses. Lagi-lagi Pak Asep yang membantu mengurusi.

Dari kejadian ini, saya mendapat hikmahnya agar selalu menyiapkan foto kopian untuk semua jenis kartu berharga atau surat-surat penting yang kita punya agar saat hilang, kita tidak repot-repot lagi mengurusnya.

kinoy jackson