Saya Sempat Berguyon Soal Disapu Habis Tsunami di Tanjung Lesung

Minggu, 6 Januari 2019

DEKANDIDAT.COM – Saya sama sekali tak menduga kalau goyunan soal tsunami bakal menjadi kenyataan. Bahkan enam orang dari rombongan kami, meninggal dunia. Lima orang karyawan Kemenpora, seorang lagi (Rahma), putri dari Wahyudhi Kotjoanggono, Kabid Biomekanik dan Kebugaran PP-ITKON.

Semula teman-teman, termasuk saya berharap acara out bound bagi seluruh karyawan Kemenpora diadakan di Kuningan. Selain ingin menikmati udara sejuk pegunungan, sosok Kepala PP-ITKON, Edi Nurinda Susila, sangat dikenal oleh warga dan pejabat di Kuningan. Maklum Pak Edi, putra daerah, sehingga fasilitas untuk kami di Kuningan pasti lebih terjamin.

Namun acara out bound yang direncanakan diadakan Desember, terus molor. Bahkan saya dan teman-teman baru tahu beberapa hari sebelum hari H. Untuk memastikannya, saya ke ruangan, Pak Edi. Dia membenarkan acara out bound diadakan di Tanjung Lesung. Karena sudah pasti,  saya pun membantu dia mencari objek wisata pantai di Tanjung Lesung. Melalui HP, saya searching di google. Saya berhasil menemukan beberapa objek wisata di Tanjung Lesung yang harga sewa per harinya standar di Kemenpora. Saya tak ingat resort apa saja yang saya berikan ke Pak Edi.

Sambil bercanda saya bilang ke Pak Edi, “Resort ini bagus-bagus lho Pak. Harganya juga murah, masih di bawah standar. Tapi kalau kita jadi di tempat ini, begitu ada tsunami, kita bakal habis semua. Sekarang kan sering ada gempa dimana-mana.”

Pak Edi tetap keukeh kalau out bound dilakukan di Tanjung Lesung. “Anak-anak pada mau maen di laut Noy,” jawabnya singkat ketika itu. Tahun-tahun sebelumnya out bound PP-ITKON dilaksanakan di Bali dan Kuningan.

Besoknya saya kembali memastikan apakah out bound tetap di Tanjung Lesung. Saya pun berkirim WA pada Pak Edi. Lagi-lagi dengan guyonan saya bilang, bagaimana kalau nanti ada tsunami.

“Insya Allah, aman,” jawab Pak singkat.

Survei Lokasi

Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar Pak Edi melakukan survei ke Tanjung Lesung. Bahkan Adhi Kurniadi, sopir pribadi yang juga adik sepupunya mengirimkan foto-foto Tanjung Lesung Beach. Saya pun semakin yakin kalau out bound PP-ITKON jadi digelar di tempat itu.

Bahkan saat bertemu di ruangannya lagi untuk memastikan keberangkatan, Pak Edi meminta saya membawa peralatan pancing. Dia dan saya sama-sama hobi mancing.

Jumat (22/12) pagi, sekitar pukul 10.00, rombongan berangkat dari parkiran Kemenpora, Senayan, dengan dua bus ukuran kecil, maksimal mampu menampung 20 penumpang, plus peralatan dan makanan untuk di jalan.

Saya yang awalnya ingin menaiki bis paling depan, diajak Pak Darwis, untuk ikut di bisnya. Jadi lah saya bergabung dengan emak-emak karyawan Kemenpora yang sebagian besar berprofesi sebagai massase atau tukang pijat. Saya yang semula tak mengenal mereka, di dalam perjalanan menjadi akrab.

3 Kali Nyasar

Suasana ceria di bis yang saya tumpangi mulai terganggu ketika Pak Darwis salah jalan. Mobil yang seharusnya keluar dari Serang Timur, kelewatan. Kita keluar dari Serang Barat. Walhasil kita harus melalui jalan baru, melalui Cilegon untuk kemudian menyusuri Pantai Carita, Labuan, baru sampai ke tujuan.

Karena harus melalui jalan baru yang kondisinya belum bagus betul, bahkan di beberapa tempat bergelombang, kendaraan yang saya tumpangi sering kali membuat kami semua berteriak kaget. Bayangkan, dengan sokbreker mobil yang sudah nyaris mati, kita beberapa kali terlempar dari tempat duduk setiap kali melewati jembatan. Saya bahkan beberapa kali tertimpa door prize seperti teplon, alat masak, dll, yang diletakkan di begian belakang mobil.

Mendekati Tanjung Lesung, kami yang sudah jenuh menempuh perjalanan melelahkan dengan mobil yang tak mengenakkan, mulai dihinggapi rasa gembira. Namun lagi-lagi kegembiraan itu pudar. Pak Darwis nyasar lagi. Untung masih belum jauh.

Akhirnya sampai lah kita di Tanjung Lesung. Namun karena tak ada seorang pun Tim Survei di mobil kami, lagi-lagi bis nyasar ke perkampungan.

Kalau bis yang saya tumpangi sempat nyasar tiga kali, bis rombongan depan yang disopiri Wenny, justru lebih bernasih sial. Dia harus berkeja-kejaran dengan mobil lain yang tersenggol kaca spionnya. Untuk menyelesaikan masalah, Wenny harus mengeluarkan uang Rp300.000.

Sempat terpikir di benak saya, apakah kejadian tak mengenakan yang dialami dua bis merupakan pertanda bakal terjadi kesialan? Saya cepat-cepat membuang bayangan itu. Saya tak mau terjadi apa-apa dengan rombongan Kemenpora.

Mancing di Laut

Ketika karyawan Kemenpora menggelar acara out bound, saya sempat mengambil gambar mereka. Maklum, cuma saya yang diajak untuk meliput acara itu dan mereka percaya dengan hasil potretan saya. Selebihnya saya mancing di laut, di dekat batu-batu. Umpan sudah saya pesan ke pegawai Tanjung Lesung Beach.

Sempat ditemani Wenny sebentar, saya mancing sendirian di bawah terik matahari. Enak ekor ikan laut yang sebelumnya sempat saya berikan ke pelajar yang sedang PKL, akhirnya digoreng oleh Dina dkk. Saat itu kelompok Dina baru mendapat seekor ikan di acara out bound.

Mengetahui saya dapat ikan lumayan banyak, Pak Edi mengajak saya mancing lagi setelah air pasang. Katanya saat pasang naik, ikan lumayan banyak. Saya pun mengiyakan.

Sorenya, sebagian besar dari kami berenang di laut. Saya sangat puas menggangu Betty (salah satu korban meninggal). Sambil menyelam, saya menarik kaki Betty. Dia tidak bisa berenang. Pokoknya sore itu kami benar-benar puas. Kami bukan hanya berenang, kami main banana boat dan jetski ke tengah laut.

Lstrik Mati

Malam itu, adalah malam terakhir kami di Tanjung Lesung. Sebagai penutup acara, kami mengadakan acara hiburan di restoran yang ada di resort tersebut. Mulai dari debus api, organ tunggal, hingga bagi-bagi door prize.

Ketika acara bagi-bagi door prize berlangsung, lstrik tiba-tiba padam. Tak lama berselang, semua yang ada di lokasi berlari serabutan. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari hantaman gelombang tsunami. Enam orang di antara kami meninggal dunia, Helena, Umi, Nia, Titik, Betty, dan Rahma.

Apa yang sempat saya takutkan soal tsunami, akhirnya terjadi. Guyonan saya soal tsunami dan
peristiwa tiga kali nyasar dan aksi kejar-kejaran mobil rombongan Kemenpora, seolah-olah menjadi pertanda dari Yang Maha Kuasa. Namun sebagai manusia biasa, kami tak bisa menterjemaahkannya.