Saat Dihantam Tsunami, Tubuh Saya Diberi Kekebalan

Sabtu, 5 Januari 2019

DEKANDIDAT.COM – Dua pekan sudah tragedi tsunami menerjang Tanjung Lesung dan sekitarnya terjadi. Tapi hingga pagi (5/1) ini, saya sama sekali tak tahu apa yang terjadi saat dihempas ombak setinggi 5 sampai 6 meter, pada Sabtu (22/12) malam itu.

Ketika teman-teman merasakan sakit akibat benturan dengan beraneka macam benda di sekujur tubuhnya, saya sama sekali tidak merasakan apa-apa. Rasa sakit itu baru terasa setelah meja kecil yang menyelamatkan saya, tersangkut bersama sampah bambu di sebuah pohon, sekitar 15 meter dari bibir pantai.

Saat itu lah saya sangat merasakan sakit luar biasa di kaki bagian kiri, mulai dari betis hingga paha. Saya sulit untuk berjalan. Saya belum tahu kalau di bagian itu, saya mengalami luka lebam yang membuat teman-teman yang melihatnya merasa ngeri.

Saya juga heran, ketika teman-teman merasakan sakit, saya seperti kebal, tak merasakan sama sekali benturan benda keras yang membuat kaki saya luka lebam dan banyak luka sobek.

Bahkan luka di dada kanan yang cukup panjang sama sekali tak terasa. Kini setelah 14 hari, saya baru merasakan ada nyeri setiap kali batuk dan bergerak.

Beberapa teman dari PP-ITKON Kemenpora yang menjadi korban tsunami mengaku sangat ingat saat tangan, kaki, tubuh, bahkan kepala, ketika terbentur benda liar di air.

“Bang, kepala gua nggak keitung berapa kali kejedot. Tapi gua nggak tau kejedot apaan. Pokoknya sakit,” ujar Adhi Kurniadi, karyawan Kemenpora yang kesehariannya menjadi sopir pribadi Kepala PP-ITKON, Edi Nurinda Susila.

Adhi, orang pertama yang berteriak ada tsunami dan meminta puluhan teman-temannya berlari dari tempat acara, restoran Tanjung Lesung Beach, sangat jelas melihat ombak setinggi 5-6 meter datang menerjang. Suara ombak yang menyeramkan juga masih dia ingat. Begitu juga dengan Dina, Yuli, Ramadhan, dan beberapa teman lain.

Tapi mengapa saya sama sekali tak mendengar itu semua. Malam itu, saya yang ngantuk berat karena malam sebelumnya hanya tertidur 1 jam, diganggu nyamuk dan udara dingin, hanya tertegun ketika ombak besar tsunami datang. Di mata saya, ombak yang diteriakan sebagai tsunami, adalah ombak indah yang menggulung di lautan. Saya sama sekali tak mendengar suara ombak marah yang kata teman-teman suaranya sangat menakutkan.

Kalau saja tak disuruh pergi, bukan tak mungkin saya akan bernasib sial. Tapi sekali lagi, saya tak tahu lari untuk apa. Malam itu, saat acara bagi-bagi door prize, saya berada paling belakang. Saya berdiri di antara tembok dan tiang penyangga restoran. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kalau saya tak lari.

Saat berlari pun, saya masih tak tahu mengapa harus berlari. Yang saya ingat, saya berada di belakang teman perempuan. Tapi saya tak ingat itu siapa. Saya hanya merasakan, begitu baru berlari sekitar 3 meter, badan saya sudah dihantam ombak yang sangat keras. Saya tak ingat apa-apa lagi. Saya juga tak merasakan sakit sama sekali. Saya hanya takut yang luar biasa. Saya baru menyadari kalau saya sudah menjadi korban tsunami.

Hingga pagi ini, saya masih bingung, heran, dll. Saya tak tahu mengapa itu bisa terjadi. Kalau saja saya tak diberi rasa kebal, pasti saya sudah merasakan sakit saat digulung ombak tsunami.

Kejadian Serupa

Setelah saya ingat-ingat, peristiwa saya seperti ini, ngantuk seperti melayang atau fly, pernah terjadi sekitar tahun 2011. Ketika itu, pagi hari, saya membawa uang iklan jumlahnya jutaan rupiah. Saat itu saya masih bekerja di Harian Terbit (Pos Kota Grup). Itu merupakan hari kedua mata saya mengantuk berat. Namun saya tetap ngantor dengan mengendarai motor.

Saat berada di lampu merah Jalan Kayu Putih Raya, Jakarta Timur, saya yang dalam kondisi ngantuk (fly) memilih mencari jalan tikus. Karena tak mau menunggu lampu merah, saya masuk ke Jalan Balap Sepeda IV. Saya ingin menerobos lampu merah. Namun kendaraan masih padat, saya belum bisa melintas.

Pagi itu hanya motor saya yang ada di situ. Baru beberapa detik menunggu, datang seorang laki-laki memberi tahu ban motor saya tertusuk kawat. Saya hanya menjawab dengan senyum. Tak lama berselang, datang laki-laki lain mengatakan hal serupa. Lagi-lagi saya balas dengan senyum. Entah kenapa saya tak turun dari motor. Begitu lalu-lintas sepi, saya langsung memacu motor saya meninggalkan jalan itu.

Sampai di kantor, masih dalam kondisi ngantuk, saya periksa roda belakang motor saya yang tadi dibilang tertusuk kawat. Ternyata ban belakang motor saya masih mulus, tidak ada kawat yang menancap. Saya langsung berpikir, kalau tadi saya turun, pasti uang iklan lenyap dirampok dua lelaki tadi. Saya sangat bersyukur karena Tuhan telah memberi rasa kantuk. Berkat rasa ngantuk, saya terbebas dari perampokan. Usai peristiwa itu, rasa kantuk saya berangsur-angsur hilang. Luar Biasa.

Ingat peristiwa itu, hati kecil saya berkata, pasti rasa kantuk yang saya rasakan saat dihantam tsunami, sudah ‘dipersiapkan’ oleh Tuhan. Karena dengan rasa ngantuk ini, saya sama sekali tak merasa sakit saat tubuh saya berbenturan dengan benda-benda liar di air.

Saya sangat bersyukur sekali telah diberi rasa kebal oleh Tuhan. Ibarat pasien sakit gigi, saya sama sekali tak merasakan sakit ketika gigi saya dicabut karena telah disuntik obet kebal.

Saat ini, saya dalam masa pemulihan. Beberapa luka di kaki dan badan telah kering. Tinggal luka lebam di kaki kiri dan dada kanan yang terasa sakit. Kini ketika tak lagi diberi rasa kantuk, kesenggol sedikit saja kaki atau tubuh yang luka, saya langsung menjerit.

Tuhan bukan hanya menyelamatkan saya dari hantaman tsunami dengan memberi meja kecil. Tapi Tuhan juga mengurangi penderitaan saya saat tsunami dengan memberi rasa kebal di tubuh, melalui rasa ngantuk. Sekali lagi, Terima Kasih Tuhan.

kinoy jackson