Gara-Gara Tsunami, Saya Punya Keluarga Baru di Cigeulis

Jumat, 4 Januari 2019

DEKANDIDAT.COM – Bencana ternyata tak hanya menimbulkan rasa duka. Saya justru diberi oleh Yang Maha Esa, keluarga baru di Ciegeluis, Pandeglang, Banten, setelah dihantam tsunami yang tingginya sekitar 5-6 meter di Tanjung Lesung Beach, (22/12), malam.

Malam itu setelah selamat dari terjangan tsunami, saya bersama beberapa kawan yang juga menjadi korban, berkumpul di bunderan keempat Resort Tanjung Lesung. Rata-rata mereka mengalami luka-luka, beberapa di antaranya patah tulang.

Kami bingung mencari pertolongan. Bahkan kendaraan yang lewat tak mau berhenti. Mereka tak tahu kalau kami baru saja kemalangan.

Dengan kaki kiri sulit berjalan, luka memar yang lumayan parah, saya mencoba menghentikan mobil mewah berwarna krim (kalau tidak salah). Saya tak menduga mobil itu mau berhenti, sementara mobil lain yang biasa-biasa saja tak mau menolong.

Jadilah saya bersama seorang karyawan Kemenpora, Sherli, ikut di mobil itu. Di dalam mobil sudah ada tiga orang, Bayu dan Taufik, serta vokalis Seventeen, Ifan. Semula saya mengira mobil yang saya tumpangi adalah mobil Ifan. Saya pun lantas mengucapkan terima kasih kepadanya. Ternyata, mobil itu milik General Manager Tanjung Lesung Resort.

“Saya Bayu, yang nyopir Topik, kami berdua karyawan Resort Tanjung Lesung,” ucap bayu seraya menunjukkan ID karyawannya.

“Itu yang di depan, Ifan Seventeen,” tambah Bayu yang saat memberi tahu keberadaan Ifan, tersirat rasa bangga.

Namun Bayu menolak ketika saya berniat memberi ungkapan terima kasih, setibanya nanti di Jakarta, karena telah memberi tumpangan ke Puskesmas Cigeulis.

“Maaf Pak, kita sama-sama korban. Bapak gak perlu ngasih apa-apa. Saya sama Ifan terapung di laut selama dua jam,” kata Bayu  bercerita.

Pasien Terkesan Iri

Cukup lama juga saya mencapai Puskesmas Cigeulis. Di sepanjang jalan yang saya lewati, kebetulan pantai, warga mulai berkerumun. Ada mobil terbuka yang sudah penuh manusia. Mereka sepertinya siap mengungsi. Mereka tak mau jadi korban tsunami.

Sampai di depan puskemas, saya tak bisa lagi berdiri. Saya langsung terduduk di depan puskesmas yang malam itu sudah dipenuhi orang. Melihat kondisi saya seperti itu, saya dibantu naik ke tempat tidur.

Meskipun hanya puskesmas, pelayanan cukup cepat. Saya langsung ditangani, mulai dari diberi baju ganti (baju saya sudah compang-camping, basah, dan kotor), hingga diberi perawatan luka, serta air mineral. Karena banyak luka yang menganga, saya menolak ketika akan ditangani. Saya memilih menangani sendiri, mulai dari membersihkan luka, hingga memberi obat luka.

Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di kaki kiri, saya terus mengingat keluarga di Jakarta. Sebelumnya, saya sempat meminjam HP sekuriti Tanjung Lesung Beach untuk memberi kabar ke rumah, karena semua barang yang saya bawa dari Jakarta ‘direnggut’ oleh tsunami. Beruntung saya ingat nomor telpon rumah. Saya ingin memberi tahu secepatnya kalau saya selamat.

Ketika telpon diangkat istri saya, ternyata dia sama sekali tak tahu kalau telah terjadi tsunami di Tanjung Lesung. Saat itu dia baru saja tidur. Dia tak menyangka karena sebelumnya saya sempat kontak-kontakan.

Suasana puskesmas benar-benar krodit, pasien yang datang beragam lukanya. Mulai dari yang luka ringan, kepala bocor, kuping hilang sebelah, patah tulang, sampai yang pingsan karena terhantam ombak.

Malam itu saya benar-benar ingin pulang. Saya pun meminta tolong pada seorang anak remaja, Dede Rohani, untuk meminjam HP-nya. Tanpa ragu, dia memberi. Saya pun mengontak kembali istri di Jakarta. Ternyata harapan saya sia-sia. Tak ada orang yang berani ke tempat saya dirawat. Salah satu penyebabnya adalah kabar soal tsunami bakal menerjang kembali pantai-pantai di sekitar Banten. Walhasil malam itu saya menahan sakit di ruangan kecil yang hanya muat dua tempat tidur.

Semakin malam, puskesmas semakin riuh. Mereka yang datang sepertinya iri, mereka sepertinya ingin dirawat seperti saya, mereka ingin keluarganya yang menjadi korban tsunami mendapat kamar dan tempat tidur. Mereka menyangka saya hanya luka ringan, karena wajah saya tak ada luka dan saya masih bisa berkomunikasi.

Menyadari kondisi yang demikian, saya pun bertanya kepada Dede yang ternyata lulusan IPB Bogor, Jurusan Managemen SDM, untuk numpang menginap di rumahnya. Permintaan saya dikabulkan. Dengan dipapah, saya pun ke rumah Dede yang jaraknya tak lebih 100 meter dari puskesmas.

Serba Nggak Enak

Petualangan di rumah Dede Rohani pun dimulai. Begitu saya sampai, ruang tamu rumah Dede sudah penuh orang. Awalnya saya mengira mereka saudaranya. Saya sempat gak enak. Rupanya mereka warga yang mengungsi, takut rumahnya dihantam tsunami.

Mengetahui saya korban tsunami, mereka sangat takjub. Hingga subuh, saya meladeni mereka ngobrol seputar tsunami di Tanjung Lesung. Saya bersyukur diajak ngobrol, karena jujur saja, saya malam itu tak bisa tidur, selain sakit dan luka di sejumlah tempat, saya tak bisa tidur karena lampu terang. Saya terbiasa sejak kecil tidur dalam suasan gelap gulita.

Kalau di puskesmas saya hanya dikasih obat antibiotik generik dan obat penghilang rasa nyeri (mungkin karena stok terbatas), di rumah Dede, saya diberi cream penghilang rasa nyeri. Oleh tetangganya, ibu-ibu, saya juga diberi obat luka, dan obat penghilang rasa nyeri. Mereka menganggap saya sudah seperti keluarga sendiri. Saya yang biasanya malu-maluin, saat itu jadi malu sungguhan.

Dengan kondisi seadanya, mereka melayani saya dengan begitu baik. Mereka ‘memaksa’ saya makan, biar cepat sehat, katanya. Padahal saat itu saya sama sekali tak punya nafsu makan. Yang ada di benak saya adalah bertemu keluarga.

“Bang, ayo dimakan,” kata Dede, Minggu (23/12) siang.

Selama di rumah Dede, saya terus melakukan komunikasi dengan keluarga di Jakarta. Saya ingin secepatnya pulang agar mendapat perawatan yang lebih layak. Saya pun meminta tolong Dede mencarikan mobil rental yang mau mengantar ke Jakarta.

Bahkan melalui akun Facebook-nya, saya mencoba meminta tolong teman-teman untuk mencarikan mobil rental. Ternyata hingga siang hari, teman saya Fitriyan Dennis (penulis FTV) dan Wajid Nuad (wartawan TransTV) belum ada jawaban. Dede secara rutin saya minta berkomunikasi dengan istri saya.

Wajid baru mengontak saya, ketika rombongan keluarga saya sudah sampai di rumah Dede. Dia siap mengantar saya pulang. Dia minta maaf karena terlambat membaca inbox di facebook-nya.

Begitu juga dengan Fitriyan Dennis yang kesehariannya disapa Aan. Dia meminta maaf karena tak sempat membaca inbox.

“Kinoy…ya ampun…maaf…inbox facebook baru kebaca…selama ini gak liat…maaf ya kinoy,” kata Aan lewat inbox seraya menambahkan emoji minta maaf, 28 Desember.

Saya mengerti kalau kedua teman dekat ini tak sempat membaca inbox, maklum mereka pasti sibuk dengan rutinitas kerjanya. Saya tak menyalahkan mereka. Mungkin ini memang yang sudah digariskan oleh Illahi.

Dijemput Keluarga

Kabar gembira akhirnya datang. Dede memberi tahu kalau istri saya, Arie Utami bersama kakak saya, Eko dan Mbak Ning, siap menjemput. Sambil menunggu kepulangan ke Jakarta, saya harus berurusan dengan lalat-lalat. Luka menganga di kaki saya, membuat lalat betah berlama-lama. Saya sangat risih, namun tak bisa berbuat banyak. Saya harus rela, lalat-lalat itu berkerumun di luka saya.

Ketika keluarga saya OTW ke Cigeulis, datang bebarapa tawaran pulang ke Jakarta. Keluarga Sherli dan petugas medis dari RSON Kemenpora, siap mengantar saya pulang. Kalau tau siangnya bakal ada ajakan pulang, pasti saya tak akan meminta istri saya mencari kendaraan. Tapi sepertinya sudah menjadi bagian dari cerita hidup saya, harus pulang dijemput istri dan keluarga.

Saya sempat melepas Sherli saat mau dibawa ke Jakarta. Sherli yang cantik, wajahnya menjadi bengkak di sebelah kanan karena terkena benturan. Sementara kakinya tak bisa digerakkan. Sherli selalu mengerang kesakitan. Dia sempat berteriak lirih ketuka petugas medis akan memindahkan tubuhnya ke mobil ambulan. Sambil menahan tangis, saya berpelukan dengan keluarga Sherli, laki-laki, melepas kepergian Sherli ke Jakarta.

Sebelum kembali ke rumah Dede, saya menyempatkan diri melihat tiga jenazah yang ada di mobil bak terbuka. Saya khawatir di antara ketiga ada orang Kemenpora. Saya sempat kaget karena ada mayat yang wajahnya mirip Pak Kepala PP-ITKON, Edi Nurinda Susila. Mayat itu bertubuh gemuk dan memiliki wajah mirip beliau. Saya berulang kali menatap wajah dan pakaian yang dipakainya.

Namun mayat tersebut ternyata bukan Pak Edi. Mayat itu dievakuasi dari Camara, bukan dari Tanjung Lesung dan mayat tersebut ternyata sudah ada keluarga yang akan membawanya pulang. Saya pun lega meskipun masih bertanya-tanya bagaimana nasib Pak Edi bersama dua anaknya, serta teman dekat saya Adi Kurniadi (akhirnya saya dapat kabar ketika perjalanan ke Jakarta kalau Pak Edi Nurinda selamat tapi patah tulang bahu, anak perempuanya patah kaki, anak laki-lakinta sobek di pantat, sementara Adi Kurniadi jarinya nyarus putus, kepala bocor, dan retak di tangan kanan.

Saat penjemputan pun tiba. Sekitar magrib, istri dan kakak saya datang dengan kijang merah. Mereka gembira melihat saya selamat dan sehat. Sekitar satu jam di rumah Dede, saya pun pulang ke Jakarta. Saya sangat sedih meninggalkan orang-orang yang sudah berbuat baik pada saya, walaupun mereka baru mengenal saya.

Keluarga Dede Rohani yang kesehariannya membuat kripik singkong dengan berbagai rasa, memaksa saya membawa oleh-oleh hasil karya mereka. Saya sangat tersentuh dengan kebaikan hati mereka. Hanya sedikit orang-orang baik seperti mereka. Terima kasih Dede Rohani beserta keluarga. Kebaikan kalian tak akan pernah saya lupakan. Salam.

 

kinoy jackson