Cegah Berjatuhannya Korban Rokok

Koalisi Masyarakat Sehat Harmonis Minta Sri Mulyani Naikkan Cukai Rokok

Kamis, 13 Desember 2018

DEKANDIDAT.COM – Tak ingin semakin banyak masyarakat Indonesia yang menjadi sengsara bahkan meninggal dunia karena rokok, Koalisi Masyarakat Sehat Harmonis (KMSH), Kamis (13/12) siang, menyambangi kantor Kementerian Keuangan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Perwakilan KMSH, yakni Odang Muchtar (Pendiri Institut Jaminan Sosial Nasional), Yuliasman (Pendiri Yayasan Indonesia Sehat Harmoni, serta Yogi, menyerahkan dua spanduk kepada Samino dari Biro Umum dan Reza Pahlevi (Humas Kemenkeu).

Isi spanduk tersebut adalah ajakan kepada masyarakat Indonesia untuk hidup sehat serta memberi dukungan kepada Menkeu Sri Mulyani menaikkan cukai rokok.

KMSH melakukan gerakan ini untuk memperingati Universal Health Coverage – UHC atau Hari Kesehatan Sedunia 2018. Hari Kesehatan se-Dunia, jatuh pada 7 April.

“Saat ini kami sangat menyadari begitu beratnya tugas seorang Sri Mulyani untuk menghimpun dana untuk bangsa Indonesia. Kami menyarankan, untuk menaikkan pendapatan APBN, kami mendukung penuh jika beliau menaikkan cukai rokok,” tegas Odang Muchtar yang mengaku sebagai mantan Direksi Jamsostek.

Dia menjabarkan, dengan menaikkan cuka rokok, Sri Mulyani secara tidak langsung telah menyelamatkan begitu banyak nyawa rakyat Indonesia.

“Kalau cukai rokok dinaikkan, nantinya akan membuat orang enggan membeli dan mengkonsumsi rokok. Dengan begitu, mereka yang tadinya suka merokok secara perlahan akan sehat karena tak lagi merokok.”

Pemerintah Punya Solusi

Lalu bagiaman dengan nasib orang-orang yang ‘hidup dari rokok’? Misalnya pedagang rokok, petani tembakau, dan buruh pabrik rokok, ?

“Untuk pedagang rokok, saya yakin mereka adalah orang-orang pintar. Kalau harga rokok mahal dan tak ada pembeli, mereka pasti akan beralih berdagang yang lain,” ujarnya.

“Kepada petani tembakau dan buruh pabrik rokok, saya yakin pemerintah pasti sudah punya solusinya. Tak mungkin pemerintah menaikkan cukai rokok sembarangan tanpa mempedulikan nasib orang-orang yang hidup dari rokok,” tegasnya.

Sementara Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan, Heru Pambudi mengatakan, realisasi penerimaan cukai hingga 6 Desember 2018 tercatat sebesar Rp 126,51 triliun dari target sebesar Rp 155,4 triliun.

Jumlah tersebut, terdiri dari cukai rokok sebesar Rp 120,62 triliun dari target yang sebesar Rp 148,23 triliun. Kemudian cukai minuman beralkohol sebesar Rp 5,68 triliun dari target Rp 6,5 triliun.

Sedangkan Pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan cukai hasil tembakau pada 2019, sehingga penghitungan akan tetap menggunakan tingkat cukai yang ada sampai dengan 2018.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, dalam rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jumat, 2 November lalu, pemerintah membahas mengenai kebijakan cukai hasil tembakau untuk tahun depan.

“Mendengar seluruh evaluasi dan masukan dari sidang kabinet, maka kami memutuskan bahwa untuk cukai tahun 2019 tidak akan ada perubahan atau kenaikan cukai,” katanya dikutip dari Antara.

Untuk itu, pemerintah akan tetap menggunakan tingkat cukai yang ada sampai dengan tahun ini. “Kami juga akan menyampaikan skenario atau keputusan untuk penggabungan beberapa kelompok juga kita tunda,” katanya.

Dalam hal ini pemerintah akan tetap akan mengikuti struktur dari kebijakan cukai tahun 2018 baik dari sisi harga jual, eceran, maupun dari sisi pengelompokannya.

Sebelumnya sempat direncanakan kenaikan harga rokok yang cukup drastis perbungkus tahun depan.

Cara yang dilakukan adalah dengan menaikkan tarif cukai yang tinggi di atas 10 persen dan juga kenaikan yang dianggap tinggi pada besaran harga banderol atau harga jual eceran.

kinoy jackson