KORI Tak Ingin Atlet Indonesia Sulit Berurusan dengan Bank

Senin, 10 Desember 2018

DEKANDIDAT.COM – Prihatin terhadap nasib para atlet yang direndahkan oleh bank saat mengajukan kredit atau ingin memiliki rumah, Komunitas Olahraga Indonesia (KORI) bertekad mencari jalan keluarnya dengan menggelar dialog bertajuk “Apakah Masa Depan Atlet Indonesia Sudah Terjamin?”, Senin (10/12) siang, di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

“Kami prihatin begitu mendengar kabar tersebut, profesi atlet sangat tak dianggap saat mengajukan kredit atau ingin memiliki rumah. Atlet diminta mengganti profesinya jika ingin berurusan dengan bank,” kata Ketua Umum KORI, Harry Warganegara.

“Kasihan sekali nasib para atlet. Mereka yang telah berjuang mengharumkan nama bangsa dan negara melalui jalur olahraga, tapi profesinya tak dianggap sama sekali ketika berurusan dengan bank,” tukasnya menambahkan.

Sebagai langkah awal untuk menaikkan harkat dan martabat para atlet, para tokoh olahraga yang merasa peduli terhadap nasib atlet akhirnya membentuk Komunitas Olahraga Indonesia (KORI).

“Ini merupakan kegiatan pertama kami sekaligus memperkenalkan diri ke publik. Wadah ini diharapkan jadi forum untuk mempertemukan segala gagasan, pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan tentang bagaimana memajukan olahraga Indonesia.”

“KORI lahir dari ngobrol-ngobrol iseng. Tapi pas dipikirkan kok kayanya harus diseriusin. Komunitas Olahraga Indonesia, siapa pun bisa bergabung di sini. Kami semua di sini karena peduli akan dunia olahraga. Kami ingin dunia olahraga ini tetap maju untuk Indonesia, karena kami tahu bahwa eksistensi suatu negara itu bisa dari hasil atau bagaimana dunia olahraganya,” lanjutnya.

Ketua Umum KOI yang juga Ketua Inasgoc, Eric Thohir, juga sangat prihatin mengetahui atlet diremehkan seperti itu.

“Kita harus memperjuangkan nasih seluruh atlet. Kita ingin masa depan atlet terjamin. Tidak hanya ketika jayanya saja. Melainkan, saat sudah pensiun,” tegas Erick.

“Diskusi ini untuk kelangsungan masa depan olahraga Indonesia. Yang belum baik harus ditingkatkan. Yang sudah baik, terus dipertahankan,” sergahnya.

Susi Khawatir

Sementara itu, Susi Susanti, legenda bulutangkis Indonesia yang juga tampil sebagai pembicara, mengaku khawatir akan jaminan dan masa depan atlet, yang termasuk buram, di Indonesia. Alasan itulah ia enggan mengizinkan sang putri, Laurencia Averina, untuk mengikut jejaknya menjadi atlet.

“Saya tak mengizinkan putri saya menjadi atlet, karena belajar dari diri saya sendiri. Masa depan atlet masih belum bisa dijadikan pijakan, kalau di Indonesia,” ujar peraih medali emas Olimpiade 1992 Barcelona.

Sedangkan Simone Julia, atlet Ju-Jitsu nasional, mengaku proses nepotisme marak terjadi di induk cabor, dengan modus menitipkan atlet tertentu.

“Mereka bukan atlet, padahal di Indonesia butuh atlet berkemampuan baik. Juga pembinaan, jangan hanya ada di kota besar, tapi juga di daerah,” terang blasteran Indonesia-Kanada itu.

kinoy jackson