LSI: Murka ke Media Massa, Prabowo Dinilai Otoriter

Kamis, 6 Desember 2018

DEKANDIDAT.COM – Kemarahan yang dilontarkan capres no urut 2, Prabowo Subianto terhadap kalangan media, mempunyai banyak makna, yakni menguntungkan sekaligus merugikan bagi mantan Danjen Kopassus tersebut. Demikian salah satu hasil survei terkini LSI Denny JA yang dirilis Kamis (6/12) siang, di Rawamangun, Jakarta.

“Kemarahan Prabowo terhadap media mempunyai banyak makna. Kepada pendukungnya,  Prabowo ingin menunjukkan kalau dia adalah capres umat. Dia ingin menunjukkan ketegasannya. Namun publik juga menilai kalau Prabowo sebagai sosok yang otoriter. Kalau belum jadi presiden saja sudah seperti ini, marah-marah, bagaimana nanti?” begitu kata peneliti senior LSI Denny JA, Adjie Alfarabie.

Seperti diberitakan, Prabowo dalam pidatonya di acara Peringatan Hari Disabilitas Internasional ke-26 di Jakarta, Rabu, 5 Desember 2018 murka pada pers. Prabowo juga mengkritik awak media yang disebutnya telah mengkhianati tugas mereka sebagai wartawan.

Berikut adalah penggalan dari pidato Prabowo Subianto; Saya katakan, hai media-media yang kemarin tidak mau mengatakan ada belasan juta orang atau minimal berapa juta orang di situ, kau sudah tidak berhak menyandang predikat jurnalis lagi. Kau, boleh kau cetak, boleh kau ke sini dan ke sana. Saya tidak akan mengakui anda sebagai jurnalis lagi. Enggak usah, saya sarankan anda tak usah hormat sama mereka lagi. Mereka hanya antek dari orang yang ingin menghancurkan Republik Indonesia.

Sebelumnya peneliti LSI lainnya, Rully Akbar mengatakan, bagaimana efek dari kemarahan Prabowo terhadap elektabilitasnya, merugikan atau menguntungkan, baru bisa diketahui melalui hasil survei.

“Apakah kemarahan Prabowo terhadap media akan menggerus atau menaikkan elektabilitas pasangan Prabowo-Sandi baru bisa dilihat melalui hasil survei. Itu pun bila persoalan ini menjadi perbincangan hangat di publik,” ujar Rully.

Sementara itu LSI menyebutkan, ada empat isu yang menguntungkan Prabowo antara lain, pembakaran bendera tauhid/HTI (surplus 29%), politik sontoloyo (surplus 5 %), politik genderuwo (surplus 1 %), dan janji esemka (surplus 6%). Kasus pembakaran bendera tauhid/HTI paling banyak memberikan surplus isu positif terhadap Prabowo-Sandi di media sosial.

“Sedangkan bagi pasangan Jokowi-Ma’ruf, ada enam isu yang menguntungkan mereka, yakni Hoax Ratna Sarumpaet (surplus 57%), games of thrones/winter is coming (surplus 29%), tampang Boyolali (surplus 20%), Jokowi gratiskan Suramadu (surplus 13%), 4 tahun kepemimpinan Jokowi (surplus 12%), dan Sandiaga lompat makam (surplus 11%).”

Survei LSI dilakukan 10-19 November 2018. Survei melibatkan 1200 responden di 34 propinsi, dengan metode wawancara langsung. Margin of error survei ini adalah +/- 2.9%. Selain survei, LSI Denny JA juga melengkapi survei ini dengan riset kualitatif dengan metode FGD, indepth interview, dan analisis media.

Dalam rilis survei mengenai isu dan program capres ini, LSI Denny JA juga melengkapi data dengan hasil dari media dan social media monitoring yang dilakukan di Strategic Room LSI.

 

 

 

 

 

kinoy jackson