Museum Olahraga Kemenpora Gelar Temu Fans

Kamis, 22 November 2018

DEKANDIDAT.COM – Bertempat di Museum Olahraga Kemenpora, TMII, Jakarta Timur, peraih emas Asian Games 2018 dari cabang olahraga pencak silat, Sugianto dan Puspa Arumsari memberikan kiat-kiat suksesnya menjadi juara kepada ratusan pelajar SMPN yang ada di Jakarta Timur.

Menurut Kabag Humas Hukum dan Sisinfo Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora, M Rifqi, acara ‘Temu Fans Dengan Olahragawan Berprestasi’ sengaja dilakukan Kemenpora untuk memberi motivasi kepada para pelajar SMP, khususnya pelajar yang mengikuti ekstra kurikuler silat untuk agar bisa di masa mendatang menjadi atlet silat berprestasi.

“Kemenpora sengaja menggelar acara seperti ini untuk memotivasi para pelajar. Dengan mendengarkan kisah dari para atlet berprestasi, kali ini pesilat yang sukses meraih Asian Games 2018, diharapkan bisa memacu para pelajar untuk maju,” ujar Rifqi.

“Ke depan, Kemenpora melalui Museum Olahraga akan terus menggelar acara lain yang tujuannya adalah untuk membangkitkan semangat para pelajar untuk berprestasi di bidang olahraga,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Museum Olahraga Kemenpora, Een Ermawati menambahkan, para pelajar yang diundang ke acara kali ini adalah pelajar yang sekolahnya berada di lingkungan sekitar TMII.

“Mereka yang kita undang berasal dari SMPN 49, SMPN 149, SMPN 150, SMPN 268, dan SMPN 281. Mereka-mereka ini adalah pelajar yang mengikuti ektra kurikuler pencak silat di sekolahnya masing-masing,” kata Een Ermawati.

“Sebelumnya, Museum Olahraga juga mengadakan Temu Fans di GOR Pelabuhan Ratu, Sukabumi, dengan menghadirkan mantan petenis meja putri andalan Indonesia, Rosy Pratiwi Dipoyanti dan taekwondoin Nabil,” lanjutnya.

Dilarang Orang Tua

Kepada para pelajar yang hadir pagi tadi, baik Sugianto ataupun Puspa yang meraih medali emas Asian Games 2018 untuk nomor seni man single dan woman single mengaku sebelumnya orang tua mereka tak mengijinkan mereka berlatih silat.

“Dulu, saya dilarang orang tua berlatih silat karena sakit-sakitan. Tapi ternyata saya sakit bukan karena silat, akan tetapi karena pola hidup dan pola makan yang salah. Setelah saya mulai berhasil menunjukkan prestasi, orang tua akhirnya mengijinka,” ujar Sugianto.

Dia memlanjutkan, awalnya dia silat untuk nomor pertarungan atau komite, namun dia dinilai gagal. Bahkan wasit sempat menghentikan pertandingan, karena Sugianto jadi bulan-bulanan lawan.

“Saya dijadikan sansak oleh lawan saya, akhirnya wasit menghentikan pertandingan. Namun pelatih saya melihat gerakan saya bagus, saya disarankan beralih ke nomor seni. Ternyata betul, di nomor seni saya bisa berprestasi meraih emas Asian Games 2018 dan jadi juara dunia,” ungkapnya penuh rasa bangga.

Hal senada juga dilontarkan Puspa. Kedua orang tuanya pun sangat tak setuju kalau dia berlatih silat. Namun karena setiap kali bertanding selalu pulang membawa medali, akhirnya dia diijinkan.

“Perjuangan menjadi pesilat, hingga dianggap berhasil seperti sekarang sangat lah sulit. Saya sempat dilarang berlatih. Setelah diijinkan, saya harus berlatih dengan bersusah payah, jalan kaki dari rumah ke tempat latihan yang jaraknya cukup jauh, dari Kali Sari Cijantung ke TMII,” jelas Puspa.

Kadang dia harus ‘nebeng’ alias naik kereta api tanpa bayar di TMII. “Ketika itu, setiap turun dari kereta, saya harus melompat karena naeknya nebeng. Tapi dari sana, saya bisa mempraktekan ilmu silat seperti ngerol, dll. Pokonya seru sekali waktu itu. Kadang ketika menuju tempat latihan, kita mengambil buah-buahan yang ada di perjalanan. Tapi kita minta ijin dulu sama yang punya,” katanya sambil tertawa geli mengingat masa kecilnya.

“Waktu dulu, saya rajin berlatih. Kadang meskipun sakit, saya bela-belain latihan. Pelatih sempat melarang bahkan menjaga pintu kamar saya agar tak bisa keluar untuk berlatih. Tapi ketika mereka pergi, tak ada yang mengawasi, saya latihan ‘colongan’. Pokonya selama masih bisa berdiri dan berjalan, saya akan tetap berlatih,” tutup Puspa.

kinoy jackson