LSI: Keluarga Gus Dur Pilih Jokowi-Ma’ruf Bukan Karena Tak Suka Prabowo-Sandi

Kamis, 27 September 2018

DEKANDIDAT.COM – Pilihan Keluarga Besar Gus Dur memberi dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf, bukan karena Keluarga Presiden ke-4 RI tersebut tak suka pada Prabowo-Sandi.

Komentar ini dilontarkan peneliti LSI Denny JA, Ardian Sofa, saat melansir hasil survei terkini LSI Denny JA, Kamis (27/9) siang, di Gedung Rajawali, Jakarta Timur.

“Di sini sepertinya tak ada istilah suka dan tidak suka. Keluarga Gus Dur suka terhadap kedua pasangan ini. Namun mereka lebih suka pada Jokowi-Ma’ruf,” kata Ardian Sofa.

Seperti diberitakan, Keluarga Besar Almarhum Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur menyatakan dukungan politiknya kepada pasangan nomor urut 01 Jokowi Widodo-Ma’ruf Amin pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Deklarasi dukungan dibacakan putri kedua Gus Dur, Yenny Wahid, di Rumah Pergerakan Politik Gus Dur, Jalan Kalibata Timur I No 12, Kalibata, Jakarta Selatan. Yenny mengatakan, yang ia sampaikan mewakili sikap politik keluarga Gus Dur.

Menurut Yenny, dia diberi mandat untuk mendeklarasikan sikap politik pada Pilpres 2019.

Sementara itu pada survei bertajuk ‘Setelah Ijtima.Ulama 2: Pergeseran Dukungan Capres-Cawapres’, dukungan untuk pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan Joko Widodo-Ma’ruf Amin di kalangan Persatuan Alumni 212 dan Nahdlatul Ulama (NU) mengalami naik dan turun.

“Dukungan untuk Prabowo-Sandi naik turun. Naik di segmen PA 212, turun di segmen Nahdlatul Ulama (NU). Turun dari segmen yang ingin Indonesia khas Pancasila,” imbuh Sofa.

Di kalangan PA 212, pada Agustus 2018, Prabowo-Sandiaga mendapat dukungan sebesar 61,1 persen. Setelah Ijtima Ulama II, atau September 2018, dukungan tersebut naik menjadi 75 persen. Sementara untuk Joko Widodo-Ma’ruf Amin, masih di kalangan PA 212, dukungan menurun dari angka 27,8 persen pada Agustus 2018, menjadi 16,7 persen pada September 2018.

“Dukungan untuk Prabowo-Sandiaga juga mengalami kenaikan di kelompok masyarakat yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.”

Di kalangan tersebut, sebanyak 38,8 persen mendukung Prabowo-Sandi pada Agustus 2018, lalu naik menjadi 50 persen pada September 2018. Sementara dukungan untuk Jokowi-Ma’ruf mengalami penurunan.

Sedangkan sebanyak 43,5 persen mendukung Jokowi pada Agustus 2018, lalu, turun menjadi 35,7 persen pada September 2018.

Sebaliknya, di segmen masyarakat yang ingin Indonesia menjadi negara Pancasilais, dukungan untuk Prabowo-Sandiaga mengalami penurunan. Prabowo-Sandi yang sebelumnya didukung 30,4 persen pada Agustus 2018, turun menjadi 29,8 persen setelah Ijtima Ulama II.

Adapun dukungan untuk Jokowi-Ma’ruf meningkat. Di kalangan tersebut, Jokowi-Ma’ruf didukung 54,2 persen pada Agustus 2018, lalu naik menjadi 54,8 persen pada September 2018. Nahdlatul Ulama LSI juga melihat peta dukungan kedua pasangan di kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Di kelompok Nahdliyin, pasangan Prabowo-Sandiaga didukung 26,1 persen pada September 2018. Angka itu sedikit turun dibanding Agustus 2018, yakni 27 persen. Sebaliknya, dukungan terhadap Jokowi-Ma’ruf di kalangan NU naik, dari 54,7 persen pada Agustus 2018, menjadi 55,5 persen usai Ijtima Ulama II.

Ijtima Ulama II digelar 16 September 2018. Dari situ, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) menyatakan mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Survei tersebut dilakukan per 14-22 September 2018. Survei dilakukan menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah responden 1.200 orang di 34 Provinsi se-Indonesia.

Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka responden menggunakan kuesioner. Margin of erornya 2,9 persen.

kinoy jackson