Penanganan Olahraga di Indonesia Harus Memanfaatkan Sport Science

Sabtu, 8 September 2018

DEKANDIDAT.COM – Untuk meraih prestasi maksimal di masa mendatang, sudah selayaknya penanganan olahraga di Tanah Air melalui pendekatan teknologi atau sport science. Demikian dikatakan Deputi 3 Kemenpora, Bidang Pembudayaan Olahraga, Raden Isnanta, Sabtu (8/9), di Ternate.

“Olahraga itu penuh dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Olahraga selayaknya mendapatkan pendekatan teknologi dengan baik demi prestasi Indonesia pada masa depan. Kalau tidak posisi kita bisa digulingkan negara lain karena semua berpacu dengan sport science,” tegas Raden Isnanta saat tampil sebagai pembicara pada Seminar Ayo Olahraga bertajuk ‘Tantangan Pembangunan Olahraga di Era Milenial’, di Gedung Dhuafa Center, Ternate.

Seminar Ayo Olahraga yang digelar Kemenpora ini, merupakan rangkaian dari peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2018 yang puncaknya akan dilaksanakan Minggu (9/9) besok. Pembicara lain yang tampil berasal dari Kemenpora dan Pengelola Kompleks Gelora Bung Karno.

Raden Isnanta sangat gembira melihat antusiasme warga Ternate mengikuti seminar tersebut.

“Seminar ini untuk memberikan pengayaan ilmu pengetahuan kepada para peserta, serta menambah perbendaharaan informasi tentang berbagai hal yang terjadi di daerah.”

“Seminar ini sekaligus ajang tukar pikiran konsep pembangunan yang dicanangkan pemerintah pusat dan konsep membangun olahraga di era milenial. Bagaimana kita menata olahraga ke depan,” tambahnya.

Dia melihat, generasi milenial identik dengan kehadiran teknologi dan derasnya arus informasi.

Ia mengajak masyarakat untuk terjebak oleh modal penduduk besar yang dimiliki Indonesia.

Menurut Isnanta, penduduk besar kalau tidak digarap secara ilmiah membuat potensi mereka tidak teraktualisasi dengan baik.

“Kita harus seperti Cina, penduduk besar tapi pendekatan pembinaannya itu sport science,” ungkapnya.

Lewat momentum Haornas, Isnanta mengajak pendekatan secara terstruktur dan ilmiah dari usia muda.

Dia juga meminta cabang olahraga lain mengikuti sepak bola yang menggelar kompetisi usia muda. Ajang yang digelar kemenpora ini diikuti timnas U-10, U-12, U-14, dan u-16. Di sisi lain, PSSI menggelar laga U-13, U-15, dan U17 juga. Ia menilai sepak bola mulai memetik hasil dengan pembinaan cara berjenjang itu.

“Tahun lalu pelajar kita juara di Gothia Cup. Itu Eropa, Australia, dan Asia juga ikut. Hampir kayak Piala Dunia.

Ia menyinggung timnas pelajar yang berjaya pada Piala AFF U-16. Artinya, kata dia, buah pembinaan secara terstruktur itu sudah terbukti di sepak bola.

Ia meminta cabang olahraga lain melakukan hal serupa. Sebab, bila tidak, mereka akan ketinggalan.

“Kita lakukan pembinaan secara berjenjang. Ya kompetisinya, ya latihannya. Ya alatnya, ya kepelatihannya secara berjenjang,”cungkapnya.

Untuk tahun ini dan tahun depan, Kemenpora mengikuti kebijakan Presiden RI Jokowi agar memprioritaskan pembangunan SDM.

“Berarti kita harus cetak 100 ribu pelatih dengan kualifikasi, standardisasi yang berjenjang tadi. Mulai dari level daerah, nasional, hingga internasional. Lisensi harus ditingkatkan. Jadikanlah momentum Haornas ini kita menatap optimistis lebih nyata,” tutupnya.

kinoy jackson