Batal Capreskan Prabowo, Elektabilitas Gerindra Anjlok

Rabu, 25 Juli 2018

DEKANDIDAT.COM – Saat ini Partai Gerindra tengah dilanda dilema. Bersikukuh memaksakan Prabowo sebagai capres atau legowo merelakan posisi capres kepada tokoh lain. Kalau Gerindra batal mencapreskan Prabowo, berakibat fatal pada elektabilitas partainya. Elektabilitas Gerindra dipastikan bakal anjlok atau terlempar dari posisi tiga besar.

Hal demikian dikatakan peneliti LSI Denny JA, Rully Akabr saat melansir survei terkini bertajuk “Empat Isu Partai dan Ketua Umum: Sebelum dan Sesudah Pilkada”, Rabu (25/7) siang, di Rawamangun, Jakarta Timur.

“Saat ini Gerindra dalam posisi dilema. Elektabilitas Gerindra sangat bergantung pada sosok Prabowo. Pada Pemilu 2014, misalnya. Gerindra yang termasuk partai pendatang baru, bisa meroket karena Prabowo. Kalau pada Pilpres 2019 Gerindra tak mencapreskan Prabowo, Gerindra akan terlempar dari posisi tiga besar,” tukas Rully Akbar.

Berdasarkan survei terkini LSI, saat ini Gerindra berada di Partai Divisi Pertama bersama PDIP dan Golkar. Partai besutan Prabowo Subianto ini menempati posisi ketiga dengan raihan 15,2 persen, kalah dari PDIP (22,1 persen), dan Golkar (15,8 persen).

“Karenanya untuk tetap berada di posisi tiga besar, Gerindra akan mempertahankan Prabowo sebagai capresnya.”

Namun bisa Gerindra merelakan posisi capres kepada tokoh lain seperti Gatot Nurmantyo, Aher, dan tokoh lainnya. Namun sekali lagi, resikonya adalah Gerindra bukan lagi sebagai Partai Divisi Utama.

Sementara itu, LSI memasukkan PKB (7,2 persen), Demokrat (5,4 persen), dan PKS (4,2 persen), sebagai Partai Divisi 2 atau Divisi Menangah.

“Sedangkan PPP (3,8 persen), Perindro (3,1 persen), Nasdem (3,0 persen), dan PAN (2,1 persen), masuk ke Partai Divisi 3 atau Divisi Bawah),” lanjutnya.

“PSI (0,6 persen), Garuda (0,4 persen), Hanura (0,2 persen), PKPI (0,1 persen), PBB (0,1 persen), dan Berkarya (0,1 persen), berada di Divisi 4 atau dianggap sebagai Partai Gurem. Namun karena margin errornya -+ 2,9 persen, elektabilitas partai-partai masih bisa berubah,” jelasnya.

Survei digelar pada 29 Juni-5 Juli 2018 dengan metode multistage random sampling. Jumlah sampel dalam survei sebanyak 1.200 responden dan toleransi kesalahan (margin of error) -+ 2,9 persen.

kinoy jackson