Lawan Radikalisme, Kemenpora Bentengi Pemuda Melalui Aksi Bela Negara

Selasa, 22 Mei 2018

DEKANDIDAT.COM – Maraknya aksi radikalisme di sejumlah daerah seperti aksi bom bunuh diri dan penyerangan terhadap sejumlah markas kepolisian, tak membuat Kemenpora takut. Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora siap membentengi kaum muda di Tanah Air melalui pelatihan Aksi Bela Negara.

“Kita tidak boleh takut melawan teroris. Kemenpora siap menghadapi aksi radikalisme itu dengan memberikan pelatihan Aksi Bela Negara,” tandas Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Niam, Selasa (22/5) siang, di Media Center Kemenpora, Senayan, Jakarta.

Tampil sebagai pembicara utama pada Diskusi Forum Kepemudaan bertajuk ‘Saatnya Pemuda Bangkit Melawan Radikalisme’, Niam mengajak para pemuda bangkit melawan aksi radikalisme.

Lebih lanjut, Niam ikut merasa prihatin menyusul para teroris yang belakangan melakukan aksinya, ternyata usianya berkisar di antara 17-30 tahunan.

“Dari data yang ada, usia teroris di Tanah Air ternyata masuk kalangan pemuda. Itu tak bisa dipungkiri. Meskipun jumlahnya masih sedikit, akan tetapi dampaknya dapat mempengaruhi populasi yang mayoritas,” tambahnya.

“Para pemuda kita sangat kritis. Jika tak mendapat pemahaman yang benar, hal tersebut akan menjadi sumber permasalahan, sehingga akhirnya muncul berbagai aksi radikalisme.”

“Era digital, internet, dan media sosial perlu disadari bahwa jika tidak dimanfaatkan dengan baik justru menjadi sumer-sumber informasi yang digemari anak muda yang didalamnya ada hal-hal radikalisme dan terorisme. Perlu ada restorasi atau pemulihan jalan berfikir, tidak cukup dengan pendekatan politik, penghukuman, dan pembatasan, tetapi harus ada penyadaran,” tukasnya.

Menurutnya, momentum Kebangkitan Nasional harus dimaknai sebagai semangat perjuangan untuk terus menjaga persatuan dan kebersamaan sebagaimana diwariskan Boedi Oetomo 1908 dan Sumpah Pemuda 1928. Kemajuan teknologi harus mampu dipakai untuk merajut kebhinekaan menjadi kesamaan pandang tentang Indonesia yang sama-sama kita cintai.

Sementara Ketum IMM, Ali Muthohirin dan Wasekjen PMII Muhammad Nur menilai, potensi radikalisme dikalangan anak muda khususnya mahasiswa itu ada akibat globalisasi yang melanda seluruh belahan dunia termasuk Indonesia.

“Untuk mengarahkan anak muda tidak harus dengan pelarangan-pelarangan karena dengan demikian terkadang justru memompa daya dobrak semangat berontaknya. Perlu ruang-ruang publik untuk diskusi dan kebebasan berekspresi namun tetap dalam kendali nasionalisme,” ujar keduanya.

“Perlu ruang-ruang publik untuk diskusi dan berekspresi anak muda. Di kampus-kampus harus digencarkan pendidikan nasionalisme, dan yang penting lagi meningkatkan pemahaman keagamaan yang benar.”

Acara diskusi kali ini dihadiri oleh sejumlah organisasi kemahasiswaan seperti HMI, PMII, PII, IPM, IINU, IMM, KORPI, BKPRMI, PMKRI, dan GMKI.

kinoy jackson