Trio Iseng-Iseng Binus, Juarai Lomba Film Pendek Asian Games 2018

Sabtu, 12 Mei 2018

DEKANDIDAT.COM – Trio Iseng-Iseng dari Universitas Bina Nusantara, tampil sebagai yang terbaik pada kompetisi film pendek  Broadcast Legacy Program bertajuk ‘Vignette Competition’, Sabtu (12/5), di JCC, Senayan, Jakarta.

Mengangkat cerita seputar semangat Asian Games 1962 di Indonesia,Trio Iseng-Iseng yang terdiri dari Obelia Simone, Diandra Pramestisari Pololessy, dan Sufyan Tsaurie, berhasil mengalahkan 11 finalis lainnya yang berasal dari 10 universitas terpilih.

Atas keberhasilannya ini, mereka berhak atas hadiah Grand Prize berupa belajar ilmu perfilman di London, Inggris.

“Saya bangga dengan apa yang telah mereka perbuat. Mudah-mudahan mereka bisa membuat hasil karya yang lebih baik lagi. Karena masa depan ada di tangan mereka, bukan di kita-kita,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018, Erick Thohir, siang tadi.

“Lebih membanggakan lagi, pemenang dari kompetisi akan diberangkakan ke London untuk belajar di National Film and Television School dan akan diajak meninjau lokasi produksi dari mitra pelaksana broadcaster Asian Games,” tambahnya.

Erick menambahkan, seluruh peserta akan diundang menghadiri closing ceremony Asian Games 2018, di Jakarta.

Diandra Pramestisari Pololessy dari Trio Iseng-Iseng menceritakan bahwa dia harus bertanya secara detil kepada orang tuanya seputar pelaksanaan dan suasana Asian Games 1962.

“Kami membutuhkan waktu 1 bulan untuk membuat film ini. Kalau kami tidak berada di semester magang, mungkin waktu penyelesaiannya bisa lebih cepat. Kami harus pintar-pintar memanfaatkan waktu yang ada,” kata Diandra.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Broadcaster Inasgoc, Linda Wahyudi sepakat jika film pendek animasi karya Trio Iseng-Iseng Binus terpilih sebagai yang terbaik.

“Dengan faktor kesulitan yang begitu sulit, mereka memang layak menjadi yang terbaik,” tukas Linda.

Sementara itu sutradara kenamaan, Joko Anwar mengatakan, kompetisi short film selalu berguna untuk mencari bakat baru di dunia perfilman.

“Saat ini kita membutuhkan pekerja-pekerja film yang memiliki skill. Diharapkan ajang ini bisa dijadikan sebagai wadah mencari talenta handal.

“Film ini tidak harus dibebani dengan misi untuk menggugah, tapi cukup dibuat dengan story telling yang baik dengan bantuan teknis maupun estetika. Storytelling yang baik akan membantu mencapai pembuatan film pendek tersebut,” tegasnya.

Dalam kompetisi ini, Panitia Pelaksana telah menyediakan empat tema yakni Unity in Diversity, Energy of Asia, The World is Watching, dan Preparing for Triumph.

Masing – masing tema dapat dipilih oleh para peserta lomba sebagai tema dasar film pendek yang akan mereka buat. Tentunya tema – tema ini memiliki ciri tersendiri.

Unity in Diversity, misalnya lebih memaparkan mengenai perbedaan dan keindahan Indonesia serta memperlihatkan lokasi terbaik Indonesia seperti flora dan fauna, laut, sejarah, tradisi, musik, dan hutan.

Tema kedua, Energy of Triumph, lebih menceritakan mengenai pesta olahraga spesial yang diadakan untuk masyarakat lokal.

The World is Watching yang menjadi tema ketiga, merupakan tema mengenai suatu multi-event olahraga yang akan disaksikan oleh seluruh dunia.

Preparing for Triumph yang merupakan tema keempat menceritakan tentang acara olahraga yang dapat menyatukan kebersamaan manusia.

Selanjutnya, para peserta akan terlibat dalam Asian Games 18 untuk membantu tim broadcast selama perhelatan berlangsung.

kinoy jackson