Kang Emil Belum Menjadi Kandidat Perkasa di Pilgub Jabar

Minggu, 8 Oktober 2017

DEKANDIDAT.COM – Meskipun sejak jauh-jauh hari telah mendapat dukungan resmi dari Parta NasDem, ternyata sosok M Ridwan Kamil belum menjadi kandidat perkasa pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018.

“Kalau merujuk data kita, RK (Ridwan Kamil) yang konsisten disimulasi jumlah calon, yang kita potret selalu unggul tapi kita melihat belum masuk kategori tunggal. Jadi dia unggul tapi belum perkasa,” kata Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, Sabtu (7/10), di Bandung.

Melalui survei yang dilakukan pada 22-29 September 2017 dengan menggunakan metode multi stage random sampling, tingkat popularitas sosok Ridwan Kamil atau Kang Emil belum mencapai 50 persen.

“Ini artinya Emil masih sangat potensial disalip oleh calon siapa pun yang maju terutama tiga nama yang beredar saat ini yakni ada Deddy Mizwar, Dede Yusuf dan Dedi Mulyadi,” tegas Toto.

Ditambahkan, sosok Ridwan Kamil bisa disebut sebagai kandidat ‘matahari tunggal’ dalam Pilgub Jawa Barat 2018 kalau memiliki pemilih fanatik/militan di atas 25 hingga 30 persen dan elektabilitasnya bisa di atas 50 persen.

Menurutnya, Pilkada Jawa Barat 2018 akan diwarnai persaingan ketat dan seluruh figur yang potensial maju sebagai kandidat belum ada yang menjadi ‘matahari tunggal’. Termasuk elektabilitas Ridwal Kamil, yang sudah resmi diusung Nasdem, dalam berbagai simulasi pun belum cukup perkasa karena masih dibawah 40 persen.

“Ada Dede Yusuf atau DY yang mulai meroket dan Dedi Mulyadi (DM) yang trendnya terus naik. Sementara, Deddy Mizwar (Demiz) yang elektabilitasnya di atas DM masuk dalam kategori stagnan,” kata dia.

Indikasi terjadinya persaingan ketat itu tergambar dari posisi elektabilitas seluruh figur yang potensial maju sebagai calon gubernur. Mereka adalah Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan anggota DPR RI dari Demokrat Dede Yusuf, lanjutnya.

Meskipun nama-nama figur tersebut hingga kini masih terkendala ‘tiket’ partai yang masih belum aman, termasuk Deddy Mizwar yang baru resmi diusung oleh PKS dan RK oleh Nasdem. Dalam berbagai simulasi, mulai dari 21 calon, 8, 5 dan 4, posisi elektabilitas RK memang konsisten di atas seluruh calon namun beIum mampu tembus diatas 50 persen apalagi 60 persen. “Angka yang sering kita gunakan untuk menyebut perkasa atau matahari tunggal,” kata dia.

Dalam simulasi 21 calon, misaInya, Ridwan Kamil harus puas dengan (26,7 persen), disusul Dede Yusuf (20,1 persen), Deddy Mizwar (19,2 persen), AA Gym (10,0 persen), Dedi Mulyadi (9,7 persen) dan Uu Ruzhanul Ulum (Bupati Tasikmalaya) 5,1 persen. Yang lainnya, termasuk Rieke Diah Pitaloka (anggota DPR RI PDIP) hanya 4,1 persen.

Begitu juga dalam simulasi 8 calon, RK (29,6 persen ), DY ( 24, 0 persen), Demiz (19,0 persen), DM (11,1 persen), UU (7,1 persen) dan Rieke (5,2 persen). Yang lainnya dibawah 1 persen. Untuk simulasi 5 calon, RK (32 persen), DY (24,8 persen), Demiz (19,5 persen), DM (12,9 persen) dan UU (7,8 persen). Sementara untuk simulasi 4 calon, RK (34.2 persen), DY (28,3 persen), Demiz (21,6 persen), DM (13,7 persen).

Dalam distribusi dukungan di aneka segmen demografis pun, kata dia, mulai dari suku, agama, pemilih partai, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan, usia, dan jenis kelamin, seluruh calon yang akan bertarung belum ada yang kokoh merata di semua segmen.

“Dari pengalaman LSI melakukan survei, dukungan yang merata di semua segmen itu biasanya sering menjadi indikator kuatnya calon tersebut,” kata dia.

Ia mengatakam Indikator Iain yang biasa kita lihat untuk melihat seberapa potensial seorang calon untuk menang dalam Pilkada adalah pada tingginya strong supporter (pemilih militan).

kinoy jackson