Digempur Demo Bergelombang, Seminar Soal PKI di LBH Batal Digelar

Sabtu, 16 September 2017

DEKANDIDAT.COM – Aksi aktifis yang tak setuju isu PKI diungkit-ungkit lagi datang bergelombang ke kantor YLBHI, Jalan Diponegoro Jakarta. Walhasil, Seminar Pelurusan Sejarah 65 pun urung digelar. Lebih dari 100 polisi berjaga-jaga untuk mengamankan situasi.

Rencananya, sejumlah sejarahwan dan mereka yang mengetahui kejadian G30S PKI, Sabtu (16/9), akan menggelar seminar tentang PKI. Kabar tersebut didengar oleh kalangan aktifis.

Sejak Kamis, lewat aksi kecil-kecilan, aktifis yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Hukum (Ampuh) mulai meneriakan bahwa isu PKI jangan diungkit-ungkit lagi.

Pagi ini, ketika seminar akan digelar, para aktifis yang terdiri dari Aliansi Mahasiswa Jakarta (AMJ), Ampuh, Ansor, PMII, dan Laskar Merah Putih, secara bergantian berorasi. Intinya hanya satu, jangan lagi mengungkit isu PKI.

Melalui aksi ini, kami dari Aliansi Mahasiswa Jakarta (AMJ) menolak segala bentuk politisasi terkait kasus Tragedi G30S PKI. Persoalan PKI sudah selesai, tak perlu diungkit-ungkit lagi,” teriak Kordinator Lapangan AMJ, Ulah, melalui pengeras suaranya.

Para aktifis menyadari, tragedi G30S PKI menjadi catatan kelam bagi perjalanan sejarah bangsa ini. Hal tersebut layak dijadikan pelajaran bagi bangsa ini, terutama generasi penerus bangsa ini, agar dimasa-masa yang akan datang tidak terjadi lagi.

“Kendati demikian, sebagai bangsa yang besar dan berperadaban, kita harus bijak dalam menyikapinya. Tidak selayaknya mengedepankan ego dan kepentingan sendiri-sendiri, baik karena faktor kepentingan kelompok dan golongan, ataupun karena demi untuk memenuhi hasrat politik ideologi tertentu.”

“Sebaliknya, sepantasnyalah kita harus menjunjung tinggi kesepakatan bersama yaitu demi untuk tetap tegak dan kokohnya NKRI dan Pancasila sebagai ideologi negara.”

“Kita sepatutnya memberikan dukungan dan apresiasi terhadap apa yang telah dan akan terus dilakukan oleh pemerintah dalam mencarikan solusi untuk masa depan dan juga penuntasan kasus tersebut. Semua itu dilakukan, tentu hanya semata-mata demi kepentingan bangsa dan negara yang kita cintai ini dan demi untuk penyeleasian tragedi kemanusian dan politik tersebut secara menyeluruh, obyektif, dan berkeadilan bagi semuanya,” sergahnya.

“Sebagaimana diketahui, dalam menyelesaikan kasus G30S PKI dan peristiwa sebelumnya, seperti peristiwa Madiun 1948, pemerintah telah membentuk tim gabungan dari Kejaksaan Agung, Komnas HAM, TNI, Kepolisian Indonesia, pakar hukum, dan perwakilan masyarakat untuk menyelesaikan dugaan pelanggaran HAM berat masa lalu terkait G30S tersebut.”

Berbeda dengan aksi Kamis lalu, aparat kepolisian yang mengawal jalannya aksi unjuk rasa jumlahnya lumayan banyak. Bahkan, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, Jalan Mendut dibuat steril. Warga yang akan pulang ke rumah atau melintasi jalan tersebut, terpaksa mengambil jalan lain atau memutar.

Sedangkan Jalan Diponegoro menjadi lumayan macet selama demo berlangsung. Untuk membuat lancar, sejumlah polisi secara bergantian membantu memperlancar arus lalu lintas.

Sementara itu sejumlah orang tua yang disebut sebagai para sejarahwan oleh Reza Muharam yang mengaku sebagai juru bicara, terlihat duduk berkumpul di Jalan Mendut atau tepat di depan kantor YLBHI. Mereka bercengkerama di bawah pengawalan sejumlah aparat kepolisian.

“Kami hanya akan mengutarakan fakta atau temuan baru. Itu saja,” kata Reza Muharam.

Dari aparat kepolisian diperoleh kepastian bahwa seminar yang akan membahas soal PKI di kantor YLBHI Jakarta batal digelar.

“Awalnya memang akan ada seminar yang membahas soal isu PKI. Tapi tak jadi digelar,” ujar petugas polisi tersebut.

kinoy jackson