Prihatin Kondisi Bangsa, Komunitas Bulutangkis Tegaskan NKRI Harga Mati

Jumat, 2 Juni 2017

JAKARTA – Legenda bulutangkis  yang tergabung dalam Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI) merasa prihatin dengan  kondisi  kebatinan bangsa dan negara yang dalam beberapa waktu terakhir ini terkoyak oleh penyebaran pesan-pesan bernada kebencian, hasutan, hingga tindak kekerasan dengan mengatasnamakan isu perbedaan suku, agama, rasa, dan antar golongan (SARA). Karena itu, dalam perayaan Hari Kelahiran Pancasila, para pebulutangkis yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia di pentas dunia, terpanggil untuk menunjukkan dedikasi, moralitas dan dukungan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mereka menggelar Pernyataan sikap setia dan mendukung pemerintahan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang berlandaskan Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Acara Pernyataan Sikap KBI dilakukan di Hotel Santika Premier, Jakarta Barat, Kamis (1/6).

Dalam acara ini hadir para pahlawan olahraga tepok bulu dari era tahun 1950-an hingga kini. Bisa disebut, seperti Tan Joe Hok, Imelda Mgoena, Maria Fransisca, Ivana Lie, Eddy Hartono, Rosiana Tendean, Hariyanto Arbi, Ricky Soebagdja, Finarsih, Candra Wijaya, dll.

“Para pemain yang tergabung dala’n Komunitas Bulutangkis Indonesia terus terang merasa cemas dengan kondsi kebangsaan saat ini. Kami mencermati adanya upaya dari seiumlah pihak yang ingin memecah belah negara dan bangsa Indonesia dengan menggunakan isu suku,agama.ras,dan antar golongan (SARA). Meluasnya penyebaran pesanpesan bemada kebencian, hasutan, hingga tindak kekerasan dengan mengatasnamakan agama adalah gejala yang tidak bisa kita anggap enteng,” ujar Tan Joe Hok, orang Indonesia pertama yang meraih geIar juara All England 1959, yang juga didaulat sebagai  sesepuh bulutangkis Indonesia.

Sebagai olahragawan yang selama ini telah ikut berjuang dengan keringat, darah dan air mata demi mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia, dirinya terus terang metasa prihatin dan kuatir dengan kondisi ini.

“Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bedandaskan Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika, adalah negeri ‘ yang didirikan atas perbedaan dan keragaman, serta bukan keseragaman,” tukas salah satu pahlawan Indonesia yang pertama kali ikut merebut Piala Thomas 1958 di Singapura ini.

“Kami mendukung penuh seIunJh upaya Prestden Joko Widodo untuk memulihkan situasi dengan mengambil tindakan yang diperiukan, sesuai dengan kon‘dor hukum dan demokrasi. Kami, para pemain yang tergabung dalam Komunitas Bulutangkis Indonesia akan terus mendukung tegaknya Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI! Mewakili ternan-teman, bisa dkatakan, saya Indonesia. saya Pancasila. Bagi kami, NKRI adalah harga mati!‘ tegas Tan Joe Hok, yang juga Ketua Kornunitas Bulutangkis Indonesia (KBI) ini.

Soal moralitas dan dedikasi para pebulutangkis terhadap NKRI, memang tidak perlu dipertanyakan dan diragukan lagi. Han‘yanto Arbi, misalnya. Dia bersama tim bulutangkis putra Indonesia tetap berkomitmen dan kompak untuk terns bertanding dalam perebutan Piala Thomas 1998 di Hong Kong, kendati pada saat bersamaan. Kota Jakarta tengah meletus kerusuhan SARA.

“Saya adalah WNI yang sangat cinta NKRI. LoyaIiIas unIuk bangsa dan negara Indonesia yang membuat tim Piala Thomas bersatu. Kami berasal dan’ suku, agama, budaya, dan strata yang berbeda. Tetapi, demi kejayaan Merah-Putih, kami buang jaun jauh segaIa perbedaan tersebut Semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika meniadi pemersatu kami. Inilah bukti nasionalisme dan dedikasi kami kepada Indonesia, Dengan kondisi kejiwaan yang tidak kaman, kami tetap bisa iuara setelah menang 32 alas Malaysia dan kembali merebut Piala Thomas,” kata Haranto Arbi, juara All England 1993, 1994, serta Juara Dunia 1995 (II Lausanne, Swiss).

Dalam tim Piala Thomas 1998 itu, Indonesia diperkuat para pemain dan’ suku, agama, rasa, dan antar golongan yang beragam. Meski berbeda, tetapi justru inilah yang menyatukan dan menjadi modalnya berharga menjadi juara.

Ahmad M