Ingin Berantas Narkoba, Indonesia Harus Pakai Cara Gila

Selasa, 18 April 2017

DEKANDIDAT.COM – Kalau ingin memberantas peredaran narkoba di Tanah Air, pemerintah harus menggunakan cara gila, melebih cara yang dipakai Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Demikian ditegaskan Ketua Umum DPP Granat, Henry Josodiningrat.

Berbicara Diskusi Publik bertajuk “Membangun Generasi Produktif Tanpa Narkoba” yang digelar Kaukus Muda Indonesia (KMI) di Hotel JS Luwansa, Selasa (18/4) siang, anggota DPR dari PDIP ini sangat yakin, para pelaku narkoba secara drastis akan berkurang bila pemerintah memakai cara gila.

“Di Filipina, cara gila yang diterapkan Duterte dengan menembak mati bandar dan pelaku narkoba, kemudian meletakkan mayatnya di sembarang tempat, membuat mereka jera. Indonesia harus memakai cara yang lebih gila dari Filipina untuk memberantas narkoba,” ujarnya serius.

“Saya ingat ucapan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Kata Jokowi, kalau saja UU membolehkan, saya akan perintahkan kepada Kepala BNN dan Kapolri untuk mendor para penjahat narkoba. Presiden mengulang pernyataannya yang akan mendor penjahat narkoba pada kesempatan itu,” tambah Henry.

Presiden, lanjutnya, menilai Indonesia dalan kondisi darudat narkoba. Oleh karenanya dia ingin aparat melakukan penanganan serius terhadap pemberantasan narkoba.

Menurutnya, salah satu cara yang harus dilakukan untuk memberantas narkoba di Tanah air adalah dengan melakukan sidak ke lapas-lapas.

“Khusus untuk lapas narkoba, harus diperiksa secara serius. Minimal sebulan sekali harus dilakukan sidak. Tapi apakah sidak sebulan sekali sudah dilakukan oleh aparat kita? Ternyata belum. Saya tahu betul itu.”

Sebagai Ketum DPP Granat, Henry sering dapat keluhan dari warga terkait pelaku narkoba yang bisa bebas berkeliaran setelah menyetor sejumlah uang kepada oknum polisi.

Dia juga mengaku miris melihat sepak terjang oknum polisi yang melakukan penyitaan terhadap barang seperti motor, tanpa ada surat penyitaan.

“Beberapa waktu lalu, rezim sebelum pemerintahan Presiden Jokowi pernah mengatakan bahwa tahun 2015 Indonesia akan bebas narkoba. Namun saya tak yakin. Rupanya benar, hingga kini, 2017, Indonesia malah mengalami darurat narkoba,” tukasnya.

Henry juga menyesalkan praktek rehabilitasi yang disalahgunakan. Misalnya, ada masa rehab yang waktunya cuma seminggu.

“Rehabilitasi kok cuma seminggu. Itu cuma akal-akalan saja. Itu tidak benar.”

Dia menyarankan, karena Indonesia merupakan negara kepulauan, maka untuk mencegah masuknya narkoba dari luar, maka yang harus dilakukan adalah memperketat pelabuhan peti kemas dan pelabuhan tradisional. Sebab, dari pelabuhan tersebut lah narkoba masuk ke Indonesia.

Sementara itu Deputi Bidang Pencegahan BNN, Irjen Ali Jauhari, tak sepakat dengan rencana sejumlah negara yang menginginkan narkoba boleh dikonsumsi dengan alasan untuk pengobatan dan budaya tradisional.

“Negara lain boleh saja mengijinkan hal tersebut, tapi Indonesia tak akan pernah mengijinkan narkoba dikonsumsi dengan alasan untuk pengobatan dan budaya tradisional. Seperti yang terjadi di Kalimantan,” tukasnya.

Seperti diberitakan, seorang pria di Kalimantan ditangkap BNN karena menanam ganja di rumahnya. Pria itu menanam ganja untuk untuk menyembuhkan istrinya yang sakit.

kinoy jackson