Eksibisi Bola Tangan PON 2016 Terkendala Ketersediaan Lapangan

Selasa, 30 Agustus 2016

DEKANDIDAT.COM – Alih-alih ingin menampilkan partai eksibisi menarik untuk cabang olahraga bola tangan (handball) di PON XIX 2016, pihak penyelenggara justru terkendala oleh ketersediaan lapangan.

Hal demikian dikatakan Wakil Ketua Umum Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) Amarta Imran, saat tampil sebagai pembicara pada ‘Pembekalan Pewarta Olahraga dalam rangka Fasilitas Manajemen Even Olahraga Tahun 2016’, Selasa (30/8) di PP PON Cibubur.

“Harus kami akui, untuk menggelar eksibisi cabang olahraga bola tangan (handball), kami terkendala oleh ketersediaan lapangan. Kendati begitu, persiapan tetap dijalankan,” kata Amarta Imran.

“Kami menggunakan Lapangan Progresif karena lapangannya sesuai dengan standar yaitu 20X40 meter. Cukup sulit kami mendapatkan lapangan ini,” tambahnya.

Dia menjelaskan, eksibisi cabang bola tangan akan dilakukan lebih awal yaitu 2-8 September. Adapun peserta kejuaraan yang memadukan futsal dan basket ini berasal dari sembilan provinsi yang di antaranya adalah DKI Jakarta dan Papua.

Pria yang juga seorang pengusaha ini menjelaskan, kesulitan lapangan sebenarnya tidak hanya terjadi saat PON 2016 saja, namun juga terjadi dihampir semua daerah yang saat ini berusaha mengembangkan cabang olahraga yang dipertandingkan di olimpiade itu.

“Di Jakarta saja juga susah. Ada beberapa yang sesuai dengan standar yang satu diantaranya di PP PON ini. Selain itu ada di Bogor, tapi fasilitas pendukungnya belum memadai,” katanya menambahkan.

Meski banyak kendala termasuk masalah sumber daya manusia, Amarta dan ABTI tetap berjuang untuk terus mengembangkan salah satu cabang olahraga tertua itu yang salah satunya dengan mengenalkan ke sekolah-sekolah yang ada di Indonesia.

Target yang dicanangkan saat ini, kata dia, lebih fokus ke pengenalan dan masih mengkesampingkan beberapa aturan terutama lapangan yang digunakan. Selain itu juga fokus dalam menyiapkan wasit karena untuk memimpin pertandingan bola tangan membutuhkan keahlian khusus.

“Misal lapangan belum standar, kami mengurangi jumlah pemain. Seharusnya ada tujuh pemain. Kerena demi pengenalan kami sesuaikan dengan kondisi misal dengan menggunakan empat pemain. Yang jelas sosialisasi terus berjalan,” katanya menegaskan.

Cabang bola tangan sebenarnya sudah tidak asing di Indonesia. Pada PON 1951 di Solo, Jawa Tengah, cabang olahraga ini sudah dipertandingkan. Namun, federasi bola tangan sendiri baru dibentuk pada 2009 dan menjadi anggota KONI pada 2015.

kinoy jackson