Untuk Ciptakan Pers Pancasila, Wartawan Indonesia Harus Memiliki Semangat Bushido

Kamis, 28 Juli 2016

DEKANDIDAT.COM – Kalau Indonesia menginginkan pers di Tanah Air berkarakter pers Pancasila, maka para jurnalisnya harus memiliki ‘Semangat Bushido’ (Setia Kepada Negara), seperti yang dilakukan para jurnalis Jepang.

“Di Jepang, persnya sangat cinta pada Sang Kaisar. Di sana, pers sama sekali tak mau menyakiti negaranya. Itu semua berkat ‘Semangat Bushido’ atau setia kepada negara,” demikian dikatakan Ketua Dewan Penasehat PWI Pusat, Tarman Azzam, Kamis di Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta.

Berbicara pada Diskusi Publik bertajuk ‘Membangun Karakter Pers Pancasila; Mengawal dan Menyukseskan Kepentingan Nasional’ yang digelar oleh Social Media for Civic Education, mantan Pemred Harian Terbit itu menambahkan, di Jepang, pers siap harakiri demi Kaisar.

“Di Indonesia, harakiri sama juga dengan bunuh diri. Sampai sekarang, tak ada wartawan Indonesia yang siap bunuh diri untuk presidennya,” ujar Tarman Azzam mengungkapkan pengalamannya saat berdialog dengan wartawan Jepang.

Ditambahkan, di Indonesia, pers yang ada sekarang cenderung mengarah ke liberal.

“Meskipun pers kita adalah pers Pancasila, namun pers kita ada kecenderungan ke arah liberal,” tukasnya.

“Kalau pers kita ingin sehat, maka orang yang menjadi wartawan bukan lah orang yang ‘sakit’. Untuk membangun pers Pancasila, wartawan Indonesia harus beriman, bertaqwa, dan berjiwa Pancasila,” tegasnya.

“Untuk menjadikan pers Indonesia memiliki karakter Pancasila, maka yang harus dibenahi adalah sistem demokrasinya.

Dia juga mencontohkan pers Inggris yang dalam kesehariannya selalu mengobok-obok keluarga kerajaan.

“Pers di Inggris sangat bertolak belakang dengan pers di Jepang,” lanjutnya.

Semantara itu Direktur Komunikoten, Haeiqo Wibawa Satria, media sosial di Tanah Air banyak bertentang dengan sila-sila yang ada di Pancasila.

“Banyak media sosial yang justru menciptakan permusuhan di kalangan rakyat Indonesia. Misalnya, ada medsos yang isinya pelecehan terhadap agama tertentu melalui budaya tertentu. Ini jelas-jelas bertentangan dengan sila ke-3 Pancasila, Persatuan Indonesia,” tandas Hariqo.

Sedangkan Agus Sudibjo mempersoalkan sejumlah situs dunia seperti google, yahoo, dll, yang dengan mudahnya membawa uang triliunan rupiah dari Indonesia tak dikenai pajak.

kinoy jackson