SDI: Terlalu Dini Menilai Golkar Tak Punya Calon Presiden yang Hebat

Jumat, 20 Mei 2016

DEKANDIDAT.COM – Tudingan yang menyebutkan jagoan Partai Golkar sulit diusung sebagai calon presiden, dinilai masih terlalu dini. Hal demikian dikatakan Direktur Eksekutif Sinergi Data Indonesia (SDI), Barkah Pattimahu, Jumat (20/5), di Jakarta.

“Terlalu dini menilai Golkar tak bisa usung calon presiden pada Pilpres 2019 nanti. Masih tersisa waktu 3 tahun, dan suara pemilih sangat dinamis,” ujar Barkah.

Sebelumnya, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA melansir survei terbarunya yang salah satu poinnya menyebutkan bahwa partai beringin saat ini tak memiliki calon untuk diusung sebagai presiden.

Menurut LSI, jika Pemilu dilakukan saat ini, calon yang paling kompeten maju adalah Jokowi dan Prabowo Subianto.

Menurut Barkah, lembaga survei harus berkaca pada sejarah perpolitikan dan dinamika politik di Indonesia.

“Pertama, dalam pemilu demokratis di Indonesia tak ada satupun partai politik yang menang secara berturut-turut. Kedua, partai Golkar memiliki basis pemilih, sehingga dalam 3 pemilu demokratis Golkar selalu masuk dalam Top 3. Bahkan di 2004, mereka tampil sebagai pemenang,” tukasnya mengingatkan.

Ketiga, lanjutnya, Pileg dan Pilpres akan dilaksanakan bersamaan, sehingga model pencapresan akan berbeda dengan pemilu 2014 lalu.

“Dengan demikian Golkar tentu saja memiliki kans untuk kembali rebound dan bisa mengusung capres di 2019.”

Menurutnya, wacana Golkar tak bisa usung capres 2019 hanyalah angin kecemasan yang sengaja dihembuskan kepada elit partai Golkar saja.

“Jika mengingat kembali 2014, ada lembaga survei yang selalu menampilkan ARB sebagai capres kuat mengimbangi Megawati dan Prabowo. Namun demikian jelang pilpres muncul sosok Jokowi yang muncul sebagai pemenang. Artinya apa, segala kemungkinan masih bisa terjadi, dan terlalu dini berkesimpulan jika Golkar sulit mengusung capres di pemilu 2019,” ujarnya yang pernah ‘memperkuat’ barisan LSI Denny JA.

Ditambahkan, Golkar mungkin tak akan menang di 2004, jika ia tak dihujat pasca reformasi. Konflik Golkar selama 1,5 tahun, 20114-2016 justru akan menjadi triger bagi kader dan konstituen Golkar untuk bangkit.

Dia menyarankan, yang harus dilakukan Golkar di bawah kendali Setya Novanto dan Idrus Marham adalah melakukan konsolidasi aktif dan kaderisasi secara lebih baik dan tertata di seluruh daerah, karena inilah roh dari Golkar.

“Dengan konsolidasi yang baik Golkar akan menang dalam Pilkada 2017&2018 serta Pemilu 2019.”

Branding seringkali menjadi kata sakti bagi pegiat branding, tapi itu bukan segalanya untuk Golkar, karena yang utama adalah konsolidasi partai, mendekatkan golkar dengan kader dan konstituen dimana hal itu dapat dilakukan oleh ketua umum Golkar yang baru.

“Inilah yang dimaksud konsolidasi aktif yang perlu dilakukan Golkar. Jika ini dilakukan kekuatannya akan lebih dahsyat dari sekedar branding,” pungkasnya.

kinoy jackson