LSI: Jagoan Golkar Sulit Diusung Jadi Presiden

Rabu, 18 Mei 2016

DEKANDIDAT.COM – Meskipun publik meyakini Partai Golkar bakal segera bangkit dari keterpurukan setelah diterpa konflik hebat berkepanjangan, namun survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA ‘melihat’ partai beringin tetap susah mengusung calonnya untuk dijadikan presiden.

Demikian hasil survei terkini LSI Denny JA yang dilansir di Gedung Rajawali, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (18/5) siang, yang disampaikan oleh Ardian Sofa bersama Dewi Harum.

“Berdasarkan survei yang kami lakukan pada 2-7 Mei 2016, Publik sangat meyakini Partai Golkar akan bangkit setelah dilanda konflik hebat sejak 2014 – 2016,” kata Ardian Sofa.

Hanya saja, meskipun bakal segera bangkit, Partai Beringin yang pada Pemilu 2014 menjadi partai pengumpul suara terbanyak (14,75 persen), masih sulit mengusung calonnya untuk dijadikan presiden.

“Jika Pilpres diadakan hari ini, maka calon yang kemungkinan akan bersaing adalah Jokowi (PDIP) versus Prabowo Subianto (Gerindra). Sementara Golkar masih belum punya calon. Publik yang memilih Jokowi sebagai presiden sebanyak 45.5 persen, sedangkan Prabowo dipilih oleh 27.0 persen,” lanjutnya.

Dari hasil survei LSI yang dilakukan di 34 provinsi, melibatkan 1.200 responden dengan menggunakan quickpoll, Golkar harus menawarkan branding baru, jika ingin diterima lagi di masyarakat.

“Bukan hanya itu, kalau ingin popularitasnya kembali naik, publik sebanyak 70,5 persen menginginkan Golkar bergabung ke pemerintahan. Publik melihat, Golkar memang tak siap menjadi partai oposisi, karenanya Golkar diminta masuk pemerintahan.”

Lalu apa yang dimaksud dengan branding baru? Publik mengharapkan Golkar tak hanya melakukan pergantian pimpinannya pasca munalsub, akan tetapi harus menawarkan gagasan baru, program baru, dan memunculkan elit baru yang lebih segar.

Namun, LSI tak sependapat jika Golkar dikatakan sebagai Partai Mata Duitan menyusul penetapan mahar sebanyak Rp1 miliar untuk calon ketumnya beberapa hari lalu.

“Semua partai butuh uang. Jadi bukan hanya Golkar yang butuh uang. Kalau saat ini Golkar terkesan seperti itu, bukan berarti Golkar bisa disebut sebagai Partai Mata Duitan. Buktinya mereka tak akan meminta mahar kepada calon kepala daerah pada Pilkada,” tukasnya.

kinoy jackson