Bisa Membahayakan Negara

PWI Mengingatkan, Media Alternatif Jangan Sampai Salah Kelola

Rabu, 25 November 2015

DEKANDIDAT.COM – Mantan Ketua PWI Pusat, Tarman Azzam mengingatkan kepada para pengelola media alternatif di Tanah Air jangan sampai salah kelola. Bila media alternatif salah penanganan, nantinya akan menjadi destruktif bagi bangsa dan negara.

Demikian dikatakan Tarman Azzam saat tampil sebagai pembicara pada
Diskusi Media bertajuk ‘Peran Media Alternatif Dalam Mencegah Propaganda Separatisme di Indonesia’ yang digelar oleh Social Media Civic Education (SMCE), Rabu (25/11), di Gedung Juang 45, Jakarta.

“Perlu diingat, kalian para pengelola media anterlatif jangan salah jalan. Media alternatif akan jadi hal positif, jika ditangani secara benar. Namun media alternatif akan menjadi destruktif, bila pengelolanya salah penanganan. Ingat itu,” ujar Tarman Azzam.

Diakuinya, saat ini begitu banyak media alternatif yang ada di dunia, termasuk di Indonesia. Sayangnya, hingga saat ini belum ada aturan baku untuk menangani media alternatif.

“Hingga saat ini, publik diberi kebebasan untuk mengelola media alternatif. Padahal di era seperti sekarang, media alternatif
telah dimanfaatkan oleh kelompok ISIS sebagai ajang propaganda mereka untuk merekrut anggota ke segala penjuru dunia.”

Sementara itu, Direktur Ekskutif Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria, mengajak masyarakat di Tanah Air untuk memanfaatkan media alternatif sebagai ajang mempersatukan bangsa.

“Sepertinya rakyat Indonesia sekarang ini masih terkotak-kotak menjadi dua kelopok besar, yaitu kelompok pendukung Jokowi dan kelompok pro Prabowo. Sehingga mereka saling serang untuk menjelekkan kubu seterunya,” tukas Hariqo.

Padahal, ada masalah penting yang harus dicegah melalu media alternatif, yakni gerakan sparatis Papua Merdeka yang menginginkan lepas dari NKRI.

“Melalui media alternatif, mereka menyuarakan soal kemerdekaan Papua. Mereka memanfaatkan persoalan kecil sehingga menjadi besar dan dibaca orang melalui media alternatif.”

“Contohnya kasus Boaz Sollosa yang minta Papua Merdeka karena PSSI kena sanksi FIFA. Sebenarnya Boaz hanya bercanda, namun dimanfaatkan oleh kelompok Papua Merdeka untuk meneriakkan kemerdekaan Papua.”

Dia menjelaskan, Organisasi Papua Merdeka saat ini tak lagi fokus dengan memanfaatkan senjata. Saat ini mereka menggunakan media sosial atau media alternatif.

Sementara pembicara lainnya, wartawan senior Harian Kompas, Budiarto Shambazy menyebutkan, melalui media sosial dan media alternatif, kelompok ISIS telah menempatkan Indonesia sebagai negara kelima yang patut diwaspadai terkait aksi terorisme dunia.

“Melalui media sosial, ISIS merilis lima negara yang akan disasar, yakni Amerika, Prancis, Inggris, Libanon, dan Indonesia. Ini harus diwaspadai, karena mereka percaya dengan berita yang dilansir ISIS tersebut,” ujar Budiarto.

Dijebarkannya, secara jurnalistik, akurasi media sosial tak bisa dipercaya, hanya sebatas gosip.

“Namun yang terjadi di masyarakat, mereka sangat mempercayai berita yang diperoleh melalui media sosial atau media alternatif. Ini sangat berbahaya dan harus diwaspadai.”

kinoy jackson