Suara Demokrat Anjlok Karena Dihukum Publik

Kamis, 9 Januari 2014

JAKARTA – Pada Pemilu 2009, Partai Demokrat menang Pemilu dengan suara mayoritas. Kini ketika banyak kadernya terseret kasus korupsi, publik menghukumnya melalui elektabilitas partai yang terus anjlok. Hal demikian dikatakan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Hayono Isman.

“Hasil survei itu (elektabilitas Demokrat turun) kami terima sebagai hukuman publik kepada Demokrat. Saya katakan bahwa korupsi itu yang melaksanakan oknum, bukan partai,” kata Hayono, Kamis, di Jakarta.

Meski sudah berusaha membersihkan para kader dari praktek korupsi, nyatanya elektabilitas partai ini terus turun. “Ini karena persepsi masyarakat terhadap Partai Demokrat belum membaik. Penting ke depan untuk memastikan Demokrat bersih dari korupsi,” kata bakal capres Demokrat itu.

Di dalam survei Libang Kompas selama tiga kali pada Desember 2012, Juni 2013, dan Desember 2013, elektabilitas Partai Demokrat terus turun. Pada survei pertama, elektabilitas Demokrat mencapai 11,1 persen. Angka ini turun 1 persen menjadi 10,1 persen pada periode kedua atau setelah melewati momentum penetapan tersangka mantan ketua umum partai, Anas Urbaningrum oleh KPK.

Survei periode ketiga, saat konvensi untuk mencari kandidat calon presiden untuk diusung Partai Demokrat sudah bergulir, perolehan dukungan suara partai tak juga tertolong. Survei ketiga justru mendapatkan kembali melorotnya dukungan untuk Partai Demokrat menjadi 7,2 persen. Capaian ini bahkan lebih rendah dari perolehan suara mereka pada Pemilu 2004 yang tercatat 7,45 persen.

kinoy jackson