Artidjo Alkotsar Tolak Penghargaan UII Award

Minggu, 29 Desember 2013

YOGYAKARTA – Karena terbentur masalah kode etik, Hakim Agung Artidjo Alkostar, yang memperberat hukuman Angelina Sondakh dari 4 tahun menjadi 12 tahun penjara,  menolak penghargaan UII Award dari Senat Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

“Penghargaan itu rencananya akan diberikan pada Januari 2014, tetapi Artidjo menolak. Penolakan tersebut disampaikannya secara tertulis dalam surat tertanggal 24 Desember 2013,” kata Rektor UII, Edy Suandi Hamid, Minggu.

Melalui surat yang dikirimkannya, Artidjo menyampaikan terima kasih dan merasa mendapat kehormatan dengan usulan pemberian tersebut. Namun, dia menyampaikan bahwa kode etik hakim termasuk hakim agung tidak memperkenankan penerimaan penghargaan.

“Oleh karena itu, kami tidak meneruskan rencana pemberian Anugerah UII atau UII Award tersebut kepada Artidjo meskipun sudah dilakukan pengkajian mendalam sebelumnya tentang kelayakan pemberiannya,” kata Edy yang juga ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi).

Selama ini UII Award diberikan kepada tokoh atau lembaga yang dianggap memberikan kontribusi pada bangsa, negara, dan peradaban umat manusia sesuai dengan Statuta UII dan Peraturan UII tentang UII Award.

Penolakan Artidjo itu menunjukkan sikapnya bahwa panggilan moral jauh lebih penting untuk diikutinya ketimbang menerima penghargaan.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan Artidjo bisa menjadi inspirasi tidak saja bagi alumni dan keluarga besar UII, tetapi juga bagi bangsa ini.

UII Award pernah diberikan kepada Baharudin Loppa pada 1997, Amien Rais (1998), Moh Mahfud MD (2010), dan Indonesia Corruption Watch (ICW) pada 2011.

kinoy jackson