‪ Catatan Seorang Jurnalis Indonesia dari SEA Games 2013 Myanmar

Myanmar, Negeri Kutu Kupret

Rabu, 18 Desember 2013

BAGI wartawan olahraga senior dari Radio Republik Indonesia (RRI), Firmansyah Gindo, yang kesehariannya akrab disapa Papa Yongky, SEA Games ke-27 yang digelar di Myanmar di akhir 2013 ini, memberi kenangan tersendiri.

Dia mengaku sangat menderita begitu mendaratkan kakinya di negara yang dikuasai oleh junta militer.

“Memang lengkap sudah penderitaan kali ini. Inilah pengalaman buruk gue dari sepuluh kali ngeliput Sea Games, lima kali liputan Asian Games, empat kali Olimpiade, serta tujuh kali ngeliput PON,” tulis Yongky melalui milis yang dikirimkan kepada rekan-rekannya sesama wartawan olahraga yang tak berangkat melaiput SEA Games 2013.

Lelaki bertubuh tambun yang di kepengurusan SIWO PWI Pusat memiliki jabatan stategis, sebagai sekretaris, sudah mengalami masalah sejak transit di Singapore.

Hatinya bertambah sedih ketika di Yangoon, dia mendapatkan seorang rekan jurnalis Indonesia, Eko Julianto (Ejan), nyaris di deportasi oleh pihak imigrasi Myanmar, karena data liputannya tak muncul di register bandara.

“Alhamdulilah, akhirnya Ejan tak jadi dideportasi,” katanya bersyukur.

Namun penderitaan Papa Youngky belum juga berakhir. Malam itu, dia terpaksa bermalam di terminal. Walhasil, pria bertubuh tambun itu pun wajib mandi di terminal juga.

“Kalau tak kuat-kuat hati, nyaris aja kita kembali ke Yangoon yang berjarak tempuh lebih kurang lima jam. Tapi karena Yang Maha Kuasa selalu memberikan jalan kepada kami, kami ditolong oleh warga setempat,” tambahnya.

Di pagi buta itu, mantan pengurus KONI Pusat itu, diberi tumpangan untuk mencari hotel.

“Setelah mencari berjam-jam akhirnya kami dapat hotel juga. Tapi ampun, harga sewa kamarnya 3 kali lipat dari harga normal,” tandasnya.

“Bahkan, harga sewa hotel di Myanmar, lebih mahal di bandingkan waktu saya meliput Olimpiade London 2012. Sungguh keterlaluan,” ujarnya.

Masalah belum selesai, katanya. Ketika meliput SEA Games Laos 2009, jurnalis dari Indonesia masih bisa mencari rumah kos-kosan untuk bermalam, jika tak mendapatkan hotel.

“Tapi di Myanmar, kondisi sangat jauh berbeda. Di sini, warga Myanmar dilarang menyewakan rumahnya kepada warga asing. Kalau mereka membandel, penguasa junta militer akan mempidanakan pemilik rumah dan orang yang menyewanya.”

TAK ADA ANGKUTAN UMUM

Soal peliputan, Youngky juga menemukan banyak masalah. Sulitnya medan peliputan, membuatnya memutuskan untuk sewa mobil. Lagi-lagi harga sewa mobil cukup mencekik. Sehari, dia harus mengeluarkan uang 80 dolar AS.

“Mengapa kita sewa mobil? Di Myanmar, tak ada transportasi. Di sini tak ada taksi, bus, atau kendaraan umum yang bisa ditumpangi. Prihatin memang. Tapi inilah pengalaman pahit dalam hidup saya sebagai jurnalis,” tuturnya.

Saat liputan, para peliput juga tak bisa bebas bergerak, karena tingkat pengamanan di Nay Pyi Taw selama Sea Games terlalu berlebihan.

“Data hasil pertandingan pun selalu terlambat, sehingga kami juga sulit memberikan informasi terbaru ke Tanah Air.”

Bahkan menurutnya, pengamanan di Myanmar melebihi di Olimpiade.

“Malam hari, mulai jam tujum, suasana sangat mencekam. Untuk teman-teman yang tetap berniat ke sini, sebaiknya menetap saja di Yangoon masih banyak hotel murah,” tukas Yongky menyarankan kepada rekan-rekan wartawan Indonesia yang berniat meliput SEA Games 2013.

Karena begitu kesalnya terhadap SEA Games Myanmar, selama meliput SEA Games 2013, status di BlackBerry ditulis, ‘Myanmar, Negeri Kutu Kupret’.

 

kinoy jackson