Pramono Edhie

Capres yang Siap Di-Bully

Kamis, 7 November 2013

Darah militer begitu kental mengalir di tubuh mantan KASAD Jendral (purn) Pramono Edihie Wibowo yang kini tengah mengikuti konvensi calon presiden partai Demokrat. Pribadinya tegas maklum didikan militer baik di lingkungan keluarga maupun saat masih aktif di TNI. Latar belakang sebagai prajurit TNI yang displin juga berani menghadapi tantangan sebagai bekal ia maju di Pilpres 2014.

Entah mengapa adik ipar presiden SBY ini mengaku siap di-bully, mungkin terkait dengan akun Twitter resmi miliknya dengan nama @edhiewibowo_55, ketika diluncurkan ia menyatakan siap menerima berbagai kritikan, cercaan atau dibully sekalipun oleh pengguna lainnya.

“Ku terima saja, enggak bisa dilarang. Manakala sudah masuk Twitter atau sosial media, hutan rimbanya sudah kita pelajari betul, terima saja. Alasan dibully apa sih? Terima saja,” ucap Pramono usai menghadiri diskusi ‘Indonesia Satu’ di Studio Orange Kompas TV, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Pramono juga menyayangkan sikap masyarakat saat menggunakan sarana sosial media untuk menjelekkan orang lain. Padahal, meski memiliki perbedaan pendapat, namun ada etika yang masih harus dijaga dalam menjalani hubungan bermasyarakat.

“Jangan sampai sosial media kalau kurang suka, lalu dipakai untuk menjelekkan seseorang. Tapi kadang-kadang ada orang yang beda pendapat, etika harus dijaga, tidak boleh buruk sangka dengan orang, apalagi harus dihilangkan.
Edhie juga mengungkapkan, angka 5 sudah melekat selama hidupnya, bahkan sejak dari lahir angka 5 sudah akrab dengannya. “Angka 5 hoki buat saya,” kata Edhie di Media Center Edhie Wibowo 55, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat,
Dituturkan, ia lahir pada tanggal 5 tepatnya 5 Mei 1955. Selain itu ia juga merupakan anak nomor lima dalam keluarganya. Media center yang didirikannya pun tidak lepas dari angka 5.

Sebagai capres yang displin dan tegas, Pramono menyoroti masalah hukum khususnya pelaku korupsi, baginya bila nanti menjabat RI-1 hukuman yang pantas untuk koruptor adalah pemiskinan, karena ia tak mau dianggap melanggar HAM bila memilih hukum mati.

Menurut Edhie, bagi orang yang biasa hidup berkecukupan, maka hidup miskin itu sudah setengah mati. Dengan dimiskinkan, kata dia, maka pelaku korupsi diharapkan dapat memperbaiki dirinya dengan mengubah perilakunya menjadi lebih baik.

Hal itu berkaitan saat Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo menyatakan sepakat wacana yang mengusulkan hukuman terhadap koruptor yang terbukti melakukan korupsi adalah dimiskinkan.

Biografi

Pramono Edhie Wibowo adalah seorang Jenderal Purnawirawan ) Tentara Nasional Republik Indonesia (TNI) dengan jabatan terakhur KASAD . Tentu saja, gelar yang didapat oleh Pramono tidak melalui proses dan perjuangan yang ringan. Apabila menilik latar belakang keluarga Pramono, maka bisa dibilang bahwa Pramono terinspirasi oleh ayahnya, yaitu Letjen Purnawirawan Sarwo Edhie Wibowo; Sang Panglima Kopashanda yang punya andil dalam penumpasan G 30 S PKI.
Alumni AKABRI pada tahun1980, ( lulusan terbaik Akabri Tahun 1980 ) setamatnya dari AKABRI Pramono ditunjuk sebagai Komandan Pleton Grup I Kopassandha. Berkat prestasinya, karir Pramono berkembang.Pada tahun 1984, setelah menjadi perwira Operasi grup I Kopassandha pada tahun 1981, lalu ditugaskan sebagai Komandan Kompi 112/11 grup I Kopassandha.
Pada tahun 1995, ia ditugasi mengikuti Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Sesko AD). Setelah selesai kemudian menjabat sebagai Perwira Intel Operasi grup I Kopassus. tak lama setelah itu diberi tanggung jawab sebagai wakil Komandan Operasi grup I Kopassus pada tahun 1996, dan terpilih menjadi Komandan Operasi grup I Kopasus pada tahun 1998.
Pramono Edhie pernah mengemban tugas sebagai Ajudan Presiden RI di masa Ibu Megawati Soekarno Putri, namun tak lama setelah itu pada tahun yang sama 2001 Pramono ditugasi menempuh Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI), setelah selesai kemudian diangkat sebagai Perwira Tinggi Staf Ahli Bidang Ekonomi Sesko TNI 2004.
Kariernya terus melejit pada tahun 2005 menjabat Wakil Danjen Kopassus , 2 tahun kemudian ditahun 2007 mendapat tugas baru sebagai Kasdam IV/ Diponegoro, 2 tahun setelah itu tepatnya 2008 hingga tahun 2009 menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus TNI AD, pada tahun 2009 diangkat sebagai Pangdam III Siliwangi, kemudian Panglima Kostrad.
Tahun 2011 dipercayakan sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dan pensiun dengan pangkat jenderal pada bulan Mei 2013. Perjalanan karier yang tanpa cacat dengan deretan pengalaman yang menakjubkan maka sangat pantas bila Pramono Edhie sebagai salah satu Calon Presiden yang diusung Partai Demokrat dalam Pilpres 2014 yang akan datang.